• Home
  • About
  • Travelling
  • Review
  • Random
  • Contact
facebook twitter instagram pinterest Email

Felicia Latinka

Apa gue bisa ya? bahkan untuk punya sebuah surat tanah, gue masih nggak mampu. Apa lagi buat punya rumah.

Definisi sukses menurut bapak adalah anak yang punya rumah tiga tingkat, dengan satu lantai jadi miliknya.

Gue sedang dalam masa menyemangati diri sendiri. Gamang dengan pilihan hidup yang telah gue buat. Rasanya tak pernah menjadikan gue siapa-siapa. Bahkan tulisan ini pun, yang gue yakin pun tak akan jadi apa-apa. Hanya tertimbun bersama file word lainnya.

Cerita lelah yang kita sampaikan dan malah jadi bahan tertawaan buat bapak dan malah di ceritakan ke orang lain sebagai candaan. Menurut gue itu menyakitkan.

Untuk bercerita di seorang manusia bernama bapak saja itu butuh keberanian besar, mengalahkan ego diri sendiri, keberanian untuk jujur ke orang tua soal perasaanmu yang sebenarnya. Itu benar-benar butuh keberanian.

Karena pada akhirnya, anak adalah seorang manusia yang juga punya suara hati, yang juga punya pandangan, menyebalkan, menyedihkan, dan kesepian.

Gaji gue pas-pasan. Bahkan laptop yang ingin sekali gue beli, hingga kini belum mampu gue beli. Masih sedikit demi sedikit menabung. Apalagi untuk punya rumah tiga tingkat.

180 kata di atas, mungkin hanya terasa seperti omong kosong. Itu mah karena kamu kurang usaha? Itu karena kamu pemalas.

Mengapa kita selalu mengecilkan usaha orang? Tapi gue tahu sih, semuanya bakal tetap akan terlihat sebagai omong kosong selama itu belum menampakkan hasil. Selama itu belum jadi uang, itu semua akan tetap semu dan nggak berarti.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 

Deretan Uma Lengge


Saya menoleh ke belakang, saat seorang rekan kerja tiba-tiba menepuk pundak dan bertanya,

“kemarin ke wawo ya?”

Saya dengan tatapan bingung dan menyelidik, menatapnya heran, bagimana dia bisa tahu?

“Pakai motor supra kan? Kemarin aku liat kamu boncengan ama temanmu”

“Wah, berarti Feli harus lebih hati-hati lagi nih” jawab saya dengan nada bercanda yang disambut tawa olehnya.

Rayon namanya, salah satu rekan kerja yang setahu saya juga suka travelling. Hanya saja dia punya grup travelling sendiri, begitu pula saya. Jika grup travellingnya berjumlah lebih dari lima orang, grup saya hanya berjumlah dua orang. Saya dan rekan saya bernama Yuda yang juga rekan satu kerja. Karena alasan privasi, saya dan Yuda lebih memilih untuk merahasiakan perjalanan.

Di sela istirahat kantor, pikiran saya melayang kembali ke perjalanan Wawo yang sebenarnya dibuka dengan keisengan saya mengganggu hari minggu pagi Yuda.

***

Persawahan sambinae
Pemandangan yang mirip dengan gambar gunung dan sawah yang sering kita gambar saat SD dulu


Saya menepi di jalanan Sambinae setelah sebuah ide iseng muncul. Telpon saya akhirnya diangkat setelah ketiga kalinya saya menelpon. Wajar saja, ini hari minggu, waktunya untuk tidur hingga siang setelah satu minggu bekerja.

“Halo” Terdengar suara parau dari seberang.

“Halo Yud, sorry ganggu. Feli lagi jalan nggak tentu arah dan emang nggak tahu mau kemana. Haha” Jawab saya.

“Emang lagi dimana?” Jawabnya masih dengan suara parau.

“Ini lagi di Sambinae, merhatiin sawah.”

“Sambinae? Dekat rumah aku Fel, ke depan rumah aja, yang dekat warung bakso. Tahukan?”

“Oh iya, aku tahu.”

Tak sampai sepuluh menit, saya memarkir motor di depan warung bakso dan mengirim pesan singkat pada Yuda.

Yuda muncul dengan kaos navy lengan panjang, celana jeans abu-abu dan sandal gunung khasnya. Setelah mengobrol beberapa lama, tujuan perjalanan akhirnya ditentukan, yaitu Wawo. Sebuah daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Dengan alasan keselamatan, mengingat saya yang tidak terlalu jago bawa motor, Yuda memilih memarkirkan motor saya di garasi rumahnya dan kami berangkat menggunakan motor supranya.

Hijaunya Jalanan Wawo

Saya sibuk mengamati jalanan sembari mendengarkan lagu dari album terbaru taylor swift, evermore, yang beberapa waktu lalu baru dirilis dan masuk dalam daftar plalylist lagu yang saya dengar berulang kali.

Yuda sesekali bercerita mengenai beberapa daerah yang sudah pernah dikunjunginya disepanjang perjalanan. Tentang daerah di atas gunung yang sempat menjadi tempat suting Bolang.

 

Jalan Wawo


Sejujurnya, saya pikir, bima hanya terdiri dari daerah panas, salah satu first impression yang sering dikatakan oleh orang yang baru pertama kali mengunjungi bima, nyatanya bima juga punya daerah dingin seperti Wawo. Saya harus akui, saya jatuh cinta dengan jalanan wawo. Hijau, mulusnya jalanan, dan pemandangan yang ditawarkan membuat saya jatuh cinta untuk perjalanan kali ini.

Beberapa spot jalan ada yang di sulap sedemikian rupa hingga menjadi spot instragamable. Beberapa ada yang membutuhkan karcis masuk, beberapa ada yang gratis.

Kamu akan menemukan sekumpulan monyet disepanjang jalanan wawo yang menunggu dengan sabar jika ada beberapa pengendara yang bersedia melempar buah, snack, susu, atau makanan lainnya. Hanya saja tak jarang monyet yang ada ikut berlari mengejar pengendara sehingga tampak seperti akan di gigit, sehingga jika tak cukup hati-hati kendaraan malah akan menabrak si monyet dan akan berujung pada kecelakaan. Jadi tetaplah waspada.

Saya menepuk pundak yuda dan mengatakan bahwa saya lapar. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, yang saya tahu kami sama-sama belum sarapan. Yuda berhenti di sebuah warung yang menjual lalapan dan bakso yang di jaga seorang gadis dan seorang pria yang nampak seperti sedang berlatih menyanyi sambil memetik senar gitar.

 “Jadi mau kemana? Sape?” Yuda memecah keheningan setelah semangkuk bakso disantapnya tak kurang dari sepuluh menit.

Saya yang sedang menyantap bakso terdiam. Memang sedari awal ini memang perjalanan tanpa arah, bahkan tujuan akhirnya pun sampai sekarang masih belum betul-betul ditentukan. Yang hanya ditentukan adalah kami akan ke Wawo.

Sadar akan kebingungan saya , yuda memberi pencerahan “Nggak mau ke kolam renang? Dari sini lumayan dekat”.

“Sepertinya enggak, aku nggak bawa baju ganti”.

“Gimana kalau Uma Lengge? Cuma perlu balik arah dan belok kanan di gang yang udah kita lewatin”.

“Uma Lengge?” Nama yang sudah pernah saya dengar sedari SMP dan sering jadi tujuan wisata sejarah selain Asi Mbojo. Namun sayangnya sebagai anak rumahan, uma lengge masuk dalam daftar yang belum pernah saya kunjungi.

“Boleh deh”. Jawab saya mengiyakan.

Situs Wisata Uma Lengge

Tak sampai lima menit, kami tiba tepat di depan gerbang Uma Lengge. Setelah mengisi buku tamu dan menyumbang seadanya. Saya mengedarkan pandangan ke kompleks Uma lengge yang menyimpan banyak sejarah.


Gerbang Uma Lengge


Uma Lengge yang saya kunjungi terletak di Desa Maria, kabupaten Wawo. Dimana pada tahun 2011, Kompleks Uma Lengge telah dinobatkan sebagai desa budaya oleh pemerintah Kabupaten Bima.

Uma Lengge merupakan rumah tradisional dari suku Mbojo yang diperkirakan sudah ada sejak tahun  ke-12 Masehi sampai dengan tahun 1960 yang dahulunya difungsikan sebagai tempat tinggal dan lumbung padi. Namun kini hanya berfungsi sebagai lumbung padi.

Hampir 75% masyarakat Desa Maria berprofesi sebagai petani, sehingga keberadaan lumbung padi sangat penting bagi ketahanan pangan.

Uma Lengge berasal dari bahasa Bima, dimana Uma berarti rumah dan lengge berarti mengerucut. Jadi secara bahasa, Uma Lengge berarti rumah yang (atapnya) mengerucut.

Uma Lengge memiliki tiga bagian utama. Pondasi yang merupakan dasar dari uma lengge yang dimana dibuat agak tinggi untuk meghindari binatang buas. Lantai satu yang biasa digunakan sebagai tempat bercengkrama dan bermusyawarah. Lantai kedua sekaligus atap yang digunakan sebagai lumbung padi.

Jika kita mundur ke masa lalu, pada tahun 1957, terjadi kebakaran hebat di Desa Maria. Sehingga membuat pemangku kebijakan Desa Maria duduk bersama mendiskusikan masa depan Uma Lengge. Sehingga lahirlah satu lokasi khusus Uma Lengge yang saat ini dikenal sebagai Kompleks Uma Lengge.


Uma Jumpa Wawo


Di dalam Kompleks Uma Lengge, juga terdapat Uma Jompa yang berbentuk persegi yang juga berfungsi sebagai lumbung padi. Menatap Uma Jompa mengingatkan saya akan rumah kakek nenek yang sering saya kunjungi saat SD dulu.

Pembangunan Uma Lengge biasanya memakan waktu hampir setahun, bergantung dari kelancaran dana dan cuaca. Uma Lengge sendiri terbuat dari gabungan beberapa kayu diantaranya ada kayu jati, kayu dari pohon kelapa, bambu, dan atap yang ditutupi alang-alang.

Sebelum dilakukan pembangunan, biasanya dilakukan doa dan dzikir bersama yang dipimpin oleh ketua adat setempat dengan tujuan agar diberikan keselamatan oleh Yang Maha Pencipta dan bangunan uma lengge dapat bertahan lama.

Mungkin bagi beberapa orang, Uma Lengge hanya sekedar kompleks rumah dengan bentuk tradisional yang memiliki nilai sejarah. Berkunjung ke Uma Lengge bisa juga jadi tujuan membosankan untukmu karena hanya melihat jajaran rumah.

Ditambah lagi, tak ada gegap gempita, tak ada lampu kilauan yang kamu temukan saat memasuki kompleks uma lengge. Hanya hening. Ditambah ibu-ibu setempat yang menjemur padi di halaman uma lengge dalam diam.

Bisa jadi Uma Lengge hanya akan jadi tempat wisata yang esoknya sudah kamu lupa, atau tak akan bertahan lama di feed instagrammu karena jumlah like yang sedikit.

Tapi uma lengge akan selalu menemukan pengaggum rahasianya. Yang mengaggumi masyarakat Desa Maria dalam menjaga Uma Lengge. Mengaggumi konstruksi Uma Lengge yang sudah diciptakan oleh masyarakat Desa Maria bertahun-tahun lamanya dan masih bertahan hingga kini. Mengaggumi rasa saling membantu masyarakat sekitar dalam menjaga ketahanan pangan.

Tak perduli sepuluh, dua puluh menit, sejam atau berapa lama pun dirimu menghabiskan waktu di Uma Lengge. Uma Lengge akan tetap berdiri dalam kesederhanaannya dan mengajarkan nilai budaya pada generasi berikutnya.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Saya sebenarnya ingin menulis artikel soal patah hati yang rencananya akan saya posting di kompasiana. Hanya saja, saya masih bingung akan saya khususkan kemana tema patah hatinya. Lalu jadilah saya kembali menatap kertas kosong. Menulis artikel baru ini.

Siapa disini yang orang tuanya rada-rada emosian atau emang emosian? Please raise your hand.

Kalau orang tua lagi mau marah, kadang kita pasti tahu. Aura-aura sekitarnya tuh berasa berubah. Kadang kalau udah tahu mau dimarahin, pilihannya ada dua. Pertama, menghindar. Kedua, mau ngehindar tapi udah kedapatan duluan ama ortu jadi nggak bisa kabur.

Biasa sebelum orang tua marah, pasti ada tanda-tanda awalnya. Persis seperti kalau mau ujan pasti mendung dulu.

Nah, berikut tanda-tanda yang biasa muncul sebelum orang tua marah, jadi persiapkan mental untuk menghadapinya.

Orang Tua Sama Sekali Tidak Menyapa

Pernah nggak pas kamu pulang, tiba-tiba udara di rumah berasa dingin. Dari yang awalnya pada ketawa-ketawa, eh pas kamu masuk, semuanya langsung pada diam. Berasa bakal segera ada badai yang terjadi.

Kalau kamu beruntung, kamu bisa ganti baju dulu, atau bahkan makan dulu. Kalau nggak beruntung, biasanya sih langsung disidang.

Saudaramu Tiba-tiba Menghilang

Ini nih, model saudara yang sukanya cari aman. Tapi ini cuma berlaku buat kamu yang punya saudara. Kalau nggak punya? silahkan menikmati predikat “anak tunggal”.

Hilangnya saudaramu itu bisa diartikan, pertama “saya nggak punya urusan dengan masalahmu jadi silahkan hadapi sendiri”. 

Kedua “wah akhirnya datang juga waktu untuk kamu merasakan amukan orang tua”. Ini berlaku kalau kamu selama ini cenderung dikenal sebagai anak yang nggak pernah bikin masalah.

Ketiga, “wah nanti kalau kondisinya mulai berbahaya, saya akan datang menyelamatkanmu”. Ya bisa aja saudaramu memantau dari jauh supaya nanti kalau ada apa-apa dia bisa segera mencegah hal yang nggak diinginkan terjadi.

Ibu, Saudaramu atau Siapa Pun itu Berkata “KAMU DIPANGGIL BAPAK”

Sebagai keluarga yang jarang banget bisa ngobrol panjang ama bapak, karena bapak dikenal sebagai makhluk yang hemat kata atau jarang bicara. Tiba-tiba dipanggil bapak, itu berasa kayak bakal dijeblosin kepenjara. Nakutin.

Langkah tuh dilambat-lambatin atau pura-pura sibuk. Ngehadap ke bapak dan udah tahu pasti bakal dimarahin, nggak pernah jadi hal yang menyenangkan.

Duduk Berdua Bersama Bapak dan Bersiap Mendengar Petuah

Disini, ada dua kemungkinan. Kalau pejelasanmu masuk akal dan bisa diterima. Selamat, kamu bakal balik kamar tanpa perlu berderai air mata. Kalau penjelasanmu malah menambah amarah bapak yang semula ada di kepala jadi di ubun-ubun. Maka berdoalah, semoga tidak ada aksi pertarungan ala-ala film Hollywood.

Nah, gimana? Ada yang cocok? Semoga saja ada. Artikel ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi, bukan berdasarkan survey dari pakar yang mumpuni. Jadi kalau nggak cocok, saya nggak mau tanggung jawab.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments




Kamu mungkin pernah punya momen abu-abu. Momen yang saya juluki sebagai momen tidak jelas. Mirip seperti warna abu-abu. Tidak hitam tapi tidak juga putih.

Pernah disuatu waktu, setelah jalan-jalan bersama kawan. Tertawa bergembira, ngeshare di sosmed betapa bahagianya waktu yang kamu lewati. Setelah kamu kembali ke kamar dan berbaring. Kamu hanya diam menatap langit-langit kamar. Hp yang biasanya selalu kamu mainkan, kali ini sama sekali tidak kamu sentuh.

Tiba-tiba saja sebuah lagu sedih keluar dari mulutmu. Dengan nada sumbang tanpa band pengiring. Air matamu jatuh, yang dengan cepat kamu menghapusnya.

Mungkin kamu punya momen lainnya. Saat kamu selesai bekerja dan pulang. Kamu terduduk di sisi tempat tidur. Mungkin kamu diam-diam ingin mengundurkan diri dari tempat bekerja saat ini. Drama kantor yang mulai membuatmu jengah dan lelah. Betapa sisi terburuk seorang manusia tergambar jelas saat kamu ada di tempat kerja yang sama.

Niatmu yang terhambat karena mencari kerja susah dan beban tanggungan yang harus kamu bayar. Entah untuk orangtua, saudaramu, atau dirimu sendiri.

Atau kamu yang sekarang sedang mendengarkan musik dan memperhatikan kendaraan yang lewat. Setelah semua usaha demi usaha untuk membuktikan diri pada orangtua ternyata tidak membuahkan hasil. Pertengkaran dengan orangtua yang membuatmu harus angkat kaki dari rumah. Ternyata hal yang kamu pikir akan berhasil nyatanya hanya sebuah omong kosong ketika dihadapkan dengan realita.

Kamu, yang sudah berumur seperempat abad  namun masih belum kepikiran untuk menikah. Mendapati mantanmu kini sedang merencanakan pernikahan dengan pasangannya kini. Ternyata membuatmu sedikit iri. Mengapa dulu saat bersamaku dia tidak pernah kepikiran untuk menikah?

Terkadang hal bahagia yang sudah kamu lakukan bisa kapan saja berubah menjadi momen abu-abu. Yang membuatmu memilih lagu sedih dan mendengarkannya semalaman.

Momen abu-abu yang kadang takut kamu untuk ceritakan ke orang lain. Karena bila diceritakan mungkin akan membuatmu tampak bodoh.

Bagaimana harimu hari ini? Apakah  momen abu-abu datang menghampirimu hari ini?


Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Puncak Jatiwangi Felicia Latinka

Matahari sudah mulai tampak saat saya menyebrangi jalan menuju sebuah tanah lapang di puncak Jatiwangi. Bubur kacang hijau yang saya tenteng di kresek berwarna putih, pada akhirnya hanya mampu saya habiskan setengah gelasnya saja. 

Bersama teman seperjalanan, saya duduk di kursi kayu yang sebelumnya di duduki oleh dua sejoli yang datang bersama namun tidak banyak mengobrol. Masing-masingnya hanya sibuk memainkan layar ponsel.

Dari sebelah kanan lapangan, terlihat sekumpulan pemuda yang sedang menyeduh kopi. Air panas yang di didihkan di atas kayu bakar dengan asap yang menyatu dengan udara sekitar. Beberapa pemuda duduk bercanda dengan teman sebayanya sambil merokok.

Saya mengeratkan jaket saat udara terasa dingin. Mengeraskan volume lagu Ward Thomas yang sedang saya dengarkan.

Pandangan saya teralih ke kursi sebelah yang jaraknya kurang lebih  dua meter  dari kursi yang sedang saya duduki saat ini. Sekumpulan remaja, yang bila saya terka mungkin kumpulan anak SMA. 

Salah satunya berjaket merah dan berkacamata sedang berdiri memandangi matahari yang sudah mulai terbit, sambil memasukan kedua tangannya dalam saku jaket. Salah seorang teman si jaket merah, berjeans hitam, lihai memainkan senar gitar.

Puncak Jatiwangi

Sebenarnya nama Puncak Jatiwangi, adalah sebuah nama baru yang baru pernah saya dengar. Jika sebelumnya, tempat wisata yang terkenal menawarkan pemandangan kota dari atas bukit adalah Dana Taraha, salah satu kompleks kuburan Sultan Bima. Kini Puncak Jatiwangi juga menawarkan hal yang sama.

Wisata Puncak Jatiwangi
Jalanan di Puncak Jatiwangi

Jarak dari pusat kota menuju Puncak Jatiwangi bisa ditempuh dengan perjalanan kurang lebih 5 hingga 10 menit. Dengan akses jalan yang teramat baik. Hanya perlu hati-hati saja di jalanan menanjak dan beberapa tikungan.

Saat hari minggu, biasanya banyak warga atau anak muda yang menikmati puncak dengan berjalan kaki, lari, atau sekedar duduk bersama. Semakin pagi, jalanan akan semakin ramai. Terkadang kamu akan melihat kuda yang dituntun oleh seorang atau dua orang pemuda, ikut meramaikan suasana pagi Puncak Jatiwangi.

Pemandangan Dua Sisi

Jika dari sisi kanan jalan, kamu akan bertemu tanah lapang yang di antaranya terdapat kursi kapenta. Menjadi pilihan saya saat ini untuk menikmati matahari terbit.

Sebelum memasuki lapangan, kamu akan melihat stand Senja Kopi yang sepertinya hanya buka di sore hari. Seperti namanya, Senja Kopi.

Senja Kopi di Puncak Jatiwangi
Senja Kopi di sisi kanan jalan

Pemandangan yang ditawarkan dari sisi kanan adalah kamu bisa dengan jelas melihat garis besar daerah Jatiwangi dan sekitarnya. Lampu dari rumah penduduk yang masih menyala, jalan raya yang masih sepi pengendara, dan kabut tipis yang kamu lihat saat pagi hari.

puncak jatiwangi felicia latinka
Pemandangan dari sisi kanan Puncak Jatiwangi

Sementara dari sisi kiri, atau menyebranglah jalan dari Senja Kopi. Kamu akan melihat pemandangan Kota Bima dengan ciri khas Masjid Raya Berkubah Biru ditambah dengan pemandangan laut.

Jika dari sisi kanan, kamu hanya bisa melihat pemandangan bertemakan pegunungan dan rumah penduduk, maka dari sisi kiri kamu bisa melihat pemandangan kota dan laut yang mengelilinginya.

Puncak Jatiwangi felicia latinka
Pemandangan dari sisi kiri Puncak Jatiwangi

Sayangnya untuk sisi kiri, tidak ada kursi kapenta yang disediakan. Jadi hanya bisa berdiri di sisi jalan dan menikmati pemandangan kota.

Tapi kalau kamu malas berdiri, kamu bisa memiih untuk duduk di cafe puncak yang tersedia sambil mengobrol dengan teman seperjalananmu.

Oh ya, kalau kamu suka menikmati pemandangan kota di malam hari, puncak Jatiwangi juga menawarkan pemandangan yang tak kalah indahnya sehingga cocok kamu kunjungi bersama teman, sahabat, pasangan, atau dirimu sendiri.

Jika kamu tertarik dengan perjalanan tanpa arah dan wisata sejarah, kamu bisa mampir membaca artikel terbaru saya di sini.

Happy Weekend.

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

 

Pantai Sekoci Kolo Felicia Lantika


“Laut itu, Asmara, tak hanya terdiri dari ikan cantik dan kuda laut, tetapi juga pada masanya ada badai dan ombak besar yang hanya bisa dijinakkan oleh tembang merdu para nelayan."
― Leila S. Chudori, Laut Bercerita

Matahari sudah mulai meninggi, saat saya sedang berkeliling mengecek ruangan ganti. Di depan ruang ganti terdapat kotak dengan tulisan bayar 2.000.

Saya sedang berpikir untuk membayar atau tidak. Karena penjaganya pun tak ada. Air di ruang bilas pun tak jalan. Yang tentunya sudah diperkirakan, jika saya main air maka jangan harap bisa membilas badan.

Saya kembali duduk bersama kawan seperjalanan. Mereka masih menunggu makanan yang hingga kini belum datang. Ikan bakar + sayur + nasi + kelapa + aqua botol yang totalnya dibayar dengan uang 160.000.

Pantai sekoci namanya. Terletak di kolo, salah satu daerah yang terletak di kecamatan Asakota. Kolo terkenal dengan beragam wisata baharinya. Rasanya sangat mudah untuk menemukan tempat wisata. Tinggal pilih saja salah satu. 

Kalau tempat wisata yang sudah ada terlalu ramai buatmu, kamu bisa pilih daerah sepi di sepanjang jalan. Gelar tikar, duduk bersama kawan, lalu memerhatikan debur ombak. That’s it.  The real time of happines.

Waktu Tempuh dan Spot Favorit

Perjalanan ke Pantai Sekoci bisa ditempuh dengan perjalanan darat tentunya. Bisa dengan mobil atau motor dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam dari pusat Kota Bima.

Jalanannya cenderung berkelok dan mendaki. Tapi kondisi jalan sangat baik. Pastikan kondisi kendaraanmu dalam keadaan prima.

Di sepanjang perjalanan, kamu akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang apik. Matahari yang menyengat dan aroma tanaman liar akan menemani perjalananmu.

Di sepanjang jalan, saya punya dua spot favorit. Pertama, daerah dekat posko pemeriksaan covid Kolo yang nampaknya kini sudah tidak berjalan. Pemandangannya mirip seperti pulau yang ada di uang kertas seribuan.

Kedua, pemandangan di sekitar PLTU Bonto. Megahnya dinding biru PLTU dan birunya lautan Kolo menciptakan pemandangan seirama yang sangat pas diabadikan dalam bentuk gambar.

Tipe Pengunjung

Jika saya perhatikan, ada tiga tipe pengunjung berdasarkan waktu kedatangannya di Pantai Sekoci. Pertama, pengunjung yang datang pagi dan pulang saat jam dua belas siang. Kedua, pengunjung yang datang di siang hari dan pulang di sore hari. Ketiga, pengunjung yang datang tak terlalu pagi dan pulang tak terlalu sore.

Tempat Berteduh

Ada dua pilihan tempat berteduh yang bisa kamu pilih. Ada salaja atau dalam bahasa Indonesianya gubuk, lalu ada sarangge yang artinya serambi. Untuk sarangge terletak di bawah pohon yang cukup rindang jadi tak perlu khawatir kepanasan. 

Jika kamu tak ingin repot membawa bekal dari rumah, kamu bisa memesan langsung ke warung yang tersedia. Jika tak suka pilihan makanan yang ada, kamu bisa beralih ke mas-mas yang biasanya mampir untuk menjajakan salome. Salah satu olahan daging dari bima yang digemari hampir semua kalangan. Jika kamu bingung, salome itu mirip dengan somay yang ada di tanah jawa.

Cara Menikmati Pantai Sekoci

Oh ya, jika kamu makhluk yang suka main air tapi nggak bisa berenang. Yuk tos. Kita sama. Tapi bukan berarti laut tidak bisa dinikmati dengan cara yang berbeda bukan?

Biasanya saya cukup duduk di pinggir dan membiarkan laut datang menghempaskan gelombangnya. Oh ya, saya lupa bilang, Pantai Sekoci bukan tipe pantai yang pinggirannya berpasir, pinggirannya lebih banyak bebatuan. Jika kamu berangan-angan untuk membangun istana berpasir. Kamu salah tempat.

Dibanding itu, kamu bisa bermain susun batu atau seni menyeimbangkan batu atau rock balancing yang efeknya bisa nenangin pikiran. Atau siapa tahu pulang-pulang kamu bisa jadi seniman penyeimbang batu popular seperti Michael Grab. Ya kan? Siapa tahu.


Seni menyeimbangkan batu pantai kolo bima


Jika kamu suka foto-foto atau anak-anak instagram yang nyari spot foto kece badai, biar saya beri saran.

Berdirilah menghadap laut lalu berjalanlah ke arah kiri. Nah diujung sana kamu bakal ngeliat batu karang. Ada yang berbentuk datar mirip sekoci. Nah kamu bisa foto disitu, terserah dengan gaya apa. Ingat, hati-hati melangkah. Karangnya licin. Jangan sampai cuma karena foto nyawa menghilang.

Sekian dulu untuk perjalanan pantai sekocinya. Di lain waktu saya akan bercerita mengenai laut antah berantah. Diamanakah itu? Stay tune bersama Felicia Latinka.

Oh ya, jika kamu penasaran bagaimana awal mula perjalanan ini bisa dimulai, boleh baca artikel Awal Mula Perjalanan.


Share
Tweet
Pin
Share
7 comments

 


Saya masih terduduk menatap layar laptop saat jam sudah menunjukkan pukul  4 pagi. Dari sejam yang lalu saya mencoba melakukan sesuatu, mencoba menulis tapi berakhir tanpa sepatah kata pun tertulis. Pada akhirnya saya memilih untuk berselancar ria di youtube. Mendengarkan lagu terbaru dari Zara Larsson.

Saya sebenarnya bukan tipe orang yang bisa begadang. Jam tidur saya selalu di bawah jam sembilan malam. Salah satu faktor yang bisa membuat saya tidak bisa tidur tentu saja ketika ada masalah. Yang tak jarang mempengaruhi fisik dan psikis.

Sampai di hari kedua saya sadar bahwa maag saya kambuh dan membuat saya sadar bahwa saya sedang membunuh diri saya sendiri. Saya akhirnya memaksa makan dan meminta maaf ke diri sendiri.

Tentu ketika ada masalah tak jarang kita akan menyalahkan diri sendiri. Memaki diri karena tidak kompeten. Mempertanyakan diri sendiri mengapa bisa salah. But in the end, that’s not your fault.

Kita kadang lupa bahwa diri kita juga telah berusaha, memastikan semuanya benar sesuai aturan. Lupa kalau semua yang terjadi nggak selalu kesalahan dari kita. That just other people take a blame on you.

Momen ini membuat saya sadar betapa beratnya dunia kerja.Ya walaupun saya memang sudah tahu. Tapi ini seperti sadar season kedua.

Momen ini juga membuat saya memikirkan bapak. Bapak kok nggak pernah cerita apa-apa ya soal kerjaannya? Bapak selama ini selalu tampak baik-baik saja. Bapak sama sekali nggak pernah ngeluh betapa beratnya nyari uang.

Selain itu, beberapa waktu lalu saya kehilangan teman cerita. Mungkin itulah mengapa sekarang lebih kerasa di psikis, karena nggak tahu mau cerita ke siapa.

Saya teringat kutipan yang sangat membekas dari buku Dee Lestari berjudul Partikel yang merupakan salah satu seri Supernova. Begini bunyinya :

“Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu malah tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu.”

Kehilangan teman cerita itu seperti harta karun yang kamu cari sedari lama tapi tiba-tiba hilang kembali. Entah ditelan badai atau sengaja dihilangkan.

Karena untuk saya yang seorang introvert, sangat tidak mudah untuk membuka diri. Dan tidak semua orang bisa benar-benar mendengarkan tanpa menjudge. Tidak semua orang mau menyediakan telinganya untuk mendengar.

Nggak jarang waktu dapat masalah gini ada beberapa orang yang lebih pengen jadi bocah aja tanpa perlu tumbuh dewasa.  Kita tuh kadang emang nyadar bahwa hidup pasti akan selalu ada masalah.Tapi pas masalahnya ada, tetap aja masih berasa hancur.

Adalagi nih yang absurd, ada yang minta biar cepat-cepat kiamat aja. Biar dunia bisa segera berakhir. Yang buat saya mengajukan pertanyaan kenapa nggak minta malaikat maut aja yang cepat datang? Yang dijawabnya nggak mau, dengan alasan dia nggak mau mati sendirian.

Tapi diakhir cerita,semuanya harus kita hadapi sendirian. Kita selalu punya pilihan,mau bersikap seperti apa, mau jalan keluarnya seperti apa, mau meninggalkan atau bertahan. Semua tergantung pilihanmu.

Sepertinya saya harus segera tidur, sudah lewat 30 menit dari jam 4. Bapak juga sudah bolak-balik menyuruh saya tidur. Mata juga mulai ingin tertutup.

Sebelum berangkat tidur, saya mendengar dua kucing sedang nyaring mengeong. Sepertinya memperebutkan daerah kekuasaan.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

 


Hai. Saya Felicia Latinka. Bisa disapa dengan Feli. Lahir dan besar di kota kecil bernama Bima. Pernah merantau lalu akhirnya kembali pulang. Suka baca dan nonton drama korea. Kalau ada waktu luang suka jalan sendirian.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram

recent posts

Postingan Populer

  • Pantai Lariti : Laut Terbelah Versi Masa Kini
    Pantai Lariti : Laut Terbelah Versi Masa Kini
  • Maret : Bulan Refleksi Diri dan Susahnya Mencari Teman
    Maret : Bulan Refleksi Diri dan Susahnya Mencari Teman
  • Menikmati Air Terjun Oi Marai Di Kaki Gunung Tambora
    Menikmati Air Terjun Oi Marai Di Kaki Gunung Tambora
  • Pantai Sekoci Kolo dan Cara Sederhana Menikmatinya
    Pantai Sekoci Kolo dan Cara Sederhana Menikmatinya
  • Tentang Si Teman Cerita
    Tentang Si Teman Cerita
  • First Date Di Akhir September Yang Berakhir Gagal Dan Beberapa Alasannya
    First Date Di Akhir September Yang Berakhir Gagal Dan Beberapa Alasannya
  • Me Time Sederhana di Jalanan Sambinae
    Me Time Sederhana di Jalanan Sambinae
  • Awal Mula Perjalanan
    Awal Mula Perjalanan
  • Menikmati Dua Sisi Bima dari Puncak Jatiwangi
    Menikmati Dua Sisi Bima dari Puncak Jatiwangi
  • Saat Sendiri di Malam Minggu
    Saat Sendiri di Malam Minggu

Part of

Blogger Perempuan

Categories

  • About
  • BPN 30 Day Ramadan Blog Challenge 2022
  • Home
  • Random
  • Travelling

Blog Archive

  • April 2022 (1)
  • Oktober 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (2)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (1)
  • Februari 2021 (1)
  • Januari 2021 (1)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (4)
  • Oktober 2020 (1)
  • September 2020 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Created with by ThemeXpose