• Home
  • About
  • Travelling
  • Review
  • Random
  • Contact
facebook twitter instagram pinterest Email

Felicia Latinka

 

Ilustrasi First date Photo by cottonbro from Pexels

Kayaknya enak banget yah kalau pencarian cinta itu berjalan mulus adanya. Ngedate petama kali, nyambung, trus jalan bareng, trus nikah.

Tapi sayang, makin lama itu terasa seperti khayalan semata. Lebih terdengar seperti omong kosong.

Karena emang nyatanya nyari pasangan nggak semudah membalik telapak tangan.

Apalagi di usia 20-an, ada banyak ego dan harga diri yang dipertimbangkan. Ada banyak pihak yang merasa perlu untuk didengar segala sarannya. Seolah suaramu sendiri menjadi tidak berharga.

Tapi kayaknya yang paling menonjol dalam pencarian pasangan di usia 20-an tak lagi melulu soal cinta. Kenyamanan, itu satu aspek yang paling banyak disebut oleh teman sepantaran yang coba gue tanyakan perihal pencarian cintanya.

Cintamu tak bisa kau tebak akan berlabuh pada siapa, tapi gue yakin, kamu akan selalu tahu nyamanmu pada siapa.

First Date di Akhir September

Gue jadi keingat first date di akhir September lalu.

Gue sepertinya sudah mengirim sinyal yang memperlihatkan bahwa gue sebenarnya tertarik. Sampai akhirnya bisa ngobrol di chat. Itu rasanya senang banget.

Lalu, ajakan jalan bareng, akhirnya datang juga.

Tapi gue rasa ini tidak berakhir baik buat gue pribadi. Entah bagaimana menurutnya.

Sepulang jalan, gue malah menghabiskan waktu untuk duduk memandangi langit tanpa bintang malam itu.

Ekspektasi gue yang terlalu tinggi, membuat gue sakit hati sendiri.

Ngerasa gagal untuk sesuatu yang bahkan dimulai pun belum.

Biar gue jelaskan mengapa itu termasuk first date yang gagal menurut gue.

Tidak Ada Pertanyaan Mengenai Diri Gue

Sebenarnya hal ini sudah gue sadari sedari ngobrol di chat. Tapi waktu itu mikirnya “ah, mungkin kalau ngobrol langsung bisa aja beda”.

Nyatanya, tidak. Sama saja.

Selama ketemu, gue jadi yang paling aktif bertanya. Tiap kali jawabannya selesai, gue akan bertanya soal pertanyaan baru. Berusaha supaya obrolan bisa tetap mengalir. Sampai akhirnya gue nyerah dan lebih milih menghabiskan es jeruk yang ada di depan gue.

Tapi selama obrolan itu, tidak ada satu pun pertanyaan soal diri gue. Pertanyaan yang gue lontarkan tak pernah ditanyakan balik.

Tentu saja gue jadi berpikiran bahwa dirinya tak penasaran. Tak ingin tahu apa pun soal gue. Yang membuat gue berkesimpulan bahwa gue tidak cukup menarik untuk dirinya.

And, That’s Okay.

Jeda Diam yang Sedingin Kutub Es

Biasanya kalau pertemuan pertama, nervous atau gugup itu pasti ada. Yang kadang nyebapin kita ngelakuin hal yang malu-maluin.

Seperti nggak sengaja ngesenggol minuman, niat nyendok makanan tapi pas di mulut ternyata makanannya malah jatuh, atau mau ngambil tisu tapi baju malah kena saos, dan hal-hal lainnya.

Selain itu, terkadang saking gugupnya jadinya malah diam-diaman. Karena nggak tahu mau ngobrol apa.

Tapi biasanya habis jeda diam, biasanya obrolannya bakal kembali ngalir lagi. Ini berlaku buat yang nyambung.

Kalau nggak nyambung, biasa jedanya bakal makin lama. Misalnya, diobrolan pertama, jedanya cuma 1 menit sebelum akhirnya ada obrolan lagi. Lalu di jeda selanjutnya menjadi lima menit, lalu selanjutnya menjadi lebih panjang.

Kalau sudah begitu, bukankah itu sudah menjadi indikasi bahwa dua insan itu tidak nyambung?

Gue pribadi bakal langsung mikir “harusnya tadi di rumah aja’.

Ponsel yang Lebih Menarik Dibanding Temang Ngobrol

Gue pribadi sebisa mungkin kalau lagi ngobrol ama orang, ngeliat matanya. Hal kecil yang gue lakuin untuk menghargai lawan bicara gue.

Tapi kalau orangnya udah mulai main hp dan asik sendiri. Sepertinya itu jadi pertanda paling nyata, bahwa obrolan tak perlu dilanjutkan lagi.

Gue sudah kalah telak. Hp lebih menarik dibanding gue, lawan ngobrolnya.

Ya mungkin dia juga bosan, tak ada topik pembicaraan yang sedari tadi cukup menarik minatnya. Sehingga tentu saja HP menjadi pelarian.

Gue pun lebih memilih menikmati kendaraan yang berlalu lalang dijalanan. Yang sialnya malam itu, tak banyak yang lewat.

Dinding Penghalang yang Terlalu Tinggi

Hal yang gue sadari selama mengobrol adalah betapa tidak mudah dirinya membuka diri.

Caranya memotretkan diri, terasa agak susah buat gue menerima. Yang jatuhnya malah terlalu misterius. Dan rasa penasaran gue tidak cukup kuat untuk  membuat gue berusaha lebih keras lagi.

Sehingga membuat gue mengambil kesimpulan “ini mah, nggak bakal cocok”.

Biarlah ini menjadi warna warni hidup gue.

 

Nah, Bagaimana? Dengan membaca beberapa poin di atas, apakah kamu jadi keingat first date mu yang gagal juga? Kalau kamu punya, boleh komen di kolom komentar, siapa tahu, ceritamu lebih seru.

 

 

 

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Ilustrasi wanita yang merayakan me time (Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels)

Tiga minggu, waktu yang gue pakai cuma buat makan, kerja, nonton, tidur.

Diwaktu lainnya, ini adalah bulan kedua gue tidak menjejakan kaki keluar dari peta hidup gue yang hanya selalu soal rumah, kantor, rumah, kantor. Gitu saja terus, sampai penat gue sudah di puncak kepala.

Dan batasnya, ada di minggu kemarin, gue merindukan waktu me time untuk diri gue sendiri

Meski kamar dan selimut terlihat memanggil-manggil untuk kembali meringkuk. Tapi janji pada diri sendiri harus tetap ditepati. Right?

Gue mengepak barang yang gue perlukan. Sebotol air minum, sebungkus Nextar rasa nanas yang selalu jadi snack favorit gue, dan sebuah buku sebagai bahan bacaan nantinya.

Gue berangkat tepat saat matahari mulai meninggi.

Waktu dan Alasan Untuk Me Time

Sebenarnya moment me time atau waktu untuk diri sendiri, nggak selalu terjadi ketika lagi banyak pikiran atau lagi ada masalah. Kadang ketika lagi bahagia-bahagianya, gue bisa memutuskan untuk menepi dan merayakannya seorang diri.

Justru ketika lagi banyak pikiran gue lebih sering banyak diam, dan jalan satu-satunya adalah dengan bercerita. Itulah mengapa kehilangan teman cerita, sangat mempengaruhi hidup gue.

Keputusan buat me time terkadang nggak punya waktu pastinya. Bisa sebulan sekali, sekali dalam tiga bulan, sekali dalam seminggu, atau sekali dalam setahun, atau waktu-waktu lainnya. Random.

Me time, buat gue pribadi sangat-sangat penting. Karna dengan me time gue bisa menyegarkan kembali pikiran. Bisa ngejernihin kembali pikiran yang lagi kusut. Bisa ngelihat masalah dari sisi yang sebelumnya nggak gue pikirkan. Dan bisa bikin tambah bahagia karena gue lakukan buat diri sendiri.

Lagu yang Mewakilkan

Sebagai orang yang ngerasa hidupnya banyak diwakilkan oleh lagu-lagu diluaran sana, Gue bisa merasa sangat bahagia ketika lagu yang gue dengar, mewakilkan apa yang sedang terjadi di hidup gue kala itu.

Nah, untuk urusan Me Time, gue punya dua lagu yang cukup mewakilkan. Yang kedua lagunya dinyanyikan oleh penyanyi favorit gue, Tulus.

Lagu pertama yang mewakilkan keputusan untuk me time adalah lagu Tanggal Merah dari Tulus. Dalam lirik lagunya, tergambar dengan jelas perasaan bahagia saat me time.

Satu hari
Hanya kamu dan dirimu
Menikmati tanah yang kau injak
Memandangi langit yang kau junjung

 

Berjalan terus berjalan, kaki berjalan
Walau tanpa tujuan takkan tersesat
Ini waktumu dengan dirimu, ayo bebaslah

 

Satu hari, cukup hanya kamu dan dirimu. Berjalan kemana pun tanpa tujuan. Dan itu yang selalu gue lakukan. Memacu motor, melewati jalanan, memperhatikan apa saja yang selama ini luput dari pandangan.

Bangunan, manusia, kucing liar, sawah, sekolahan, jalanan aspal, dan lainnya.

Terkadang, gue jadi ketemu tempat baru yang malah jadi tempat favorit gue. Atau buat yang suka kulineran, bisa ketemu warung enak yang masih jarang direkomendasikan orang.

Masih dari daftar lagu Tulus, lagu Ruang Sendiri juga layak didengar saat me time.

Beri aku kesempatan tuk bisa merindukanmu

Jangan datang terus

Beri juga aku ruang bebas dan sendiri

Jangan ada terus

 

Lagu ruang sendiri, ngajarin gue soal betapa pentingnya ruang sendiri meski sudah punya pasangan. Tapi tentunya, hal ini harus dikomunikasikan terlebih dahulu, biar nggak terjadi salah paham dikemudian hari.

Tempat Pilihan Me Time di Sekitar Jalanan Bima

Bicara soal pilihan tempat me time, gue rasa nggak ada satu tempat yang selalu jadi tujuan gue, selalu berubah. Tapi satu yang pasti, gue menghindari tempat-tempat yang ramai pengunjung.

Jadi, Pantai Amahami nggak bakal jadi pilihan tempat gue buat me time di akhir minggu. Kenapa? Karna pengunjungnya ramai banget.

Meski tempat me time gue selalu berubah-ubah, tapi gue punya dua tempat yang gue kunjungi lebih dari sekali. Keduanya punya ciri yang sama, punya kursi berbatu.

Tentu saja saat me time, gue akan lebih banyak duduk dan kursi batu jadi pilihannya.

Kursi Kosong di Sekitar Jalanan Sambinae

Kursi batu di sekitar jalanan sambinae yang cocok untuk me time

Kalau urusan me time, gue rasa Sambinae selalu jadi tempat yang cocok. Gue suka tatanan jalannya dan pohon yang banyak berjejer di sepanjang jalanannya. Terasa lebih rindang. Di tambah, volume kendaraan yang lewat juga masih sedikit.

Kalau pagi, biasa banyak juga yang lari-lari pagi, meski nggak sebanyak yang lari pagi di jalanan kota.

Biasanya gue duduk di situ sambil menikmati penampakan sawah, lanjut baca buku, atau ngamatin pengendara yang lagi lewat. Yang kadang pengendaranya balik ngeliat karna aneh ngeliat perempuan duduk sendiri di kursi kosong pinggir jalan.

Kursi Tepi Laut

Kursi di sekitar jalanan menuju pantai lawata yang kondisinya kini sudah mulai retak (Felicia Latinka)

Nah, kalau jalanan di Sambinae lebih banyak nyuguhin pemandangan sawah dan gunung, kursi batu yang letaknya dekat dengan pantai Lawata, menyuguhkan pemandangan laut yang airnya tenang saat masih pagi.

Sayangnya kondisi kursi yang sudah mulai retak dan miring ke laut membuat gue tak lagi menjadikannya sebagai tempat tujuan untuk me time.

Gue kembali mengarahkan motor melewati jalanan kota.

Akan kemanakah selanjutnya? gue pun masih nggak tahu, akan berhenti di tempat yang mana, yang jelas gue terus berjalan.

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 
Foto oleh Ketut Subiyanto dari Pexels

You’re one in a million
You give me that feeling, I want it all day
I know that we’re different, but it makes no difference
I think you should stay

Gue sedang mendengarkan lagu one in a million dari jess gold, ketika sedang berusaha memikirkan bahan tulisan.

Tapi kayaknya sudah sejam lamanya dan masih belum ada satu kata pun yang tertulis.

Oh ya, Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin. Sudah naik berapa kilo?

Gue jadi keingat video dari akun dagelan yang gue tonton beberapa waktu lalu.

Di video itu ada seorang bapak yang sedang menjelaskan sapi ternaknya. Dan ketika si bapak ingin menyebutkan berat badan si sapi, ekor si sapi malah mencambuk si bapak.

Sontak, gue yang menonton tergelak tawa. Salah satu akun Instagram berkomentar “pasti sapinya cewe”. 

Lalu gue bercermin pada diri sendiri. Emang sih, ketika ditanya berat badan, gue bisa manyun seketika. Entah kenapa, itu pertanyaan yang menyebalkan. 

Gue masih lebih suka ngejawab pertanyaan soal tinggi badan dibanding berat badan.

Meski berat badan gue, termasuk bukan berat badan ideal, tapi keinginan untuk diet, masih jauh adanya.

Video youtube yang berisi olahraga penurun berat badan, masih tersimpan rapi didaftar tonton nanti.

Tahukan? Kalau ngelakuin sesuatu yang baru masih lebih susah di banding ngumpulin niat.

Tapi gue bersyukur sih, makin lama, kayaknya standar kecantikan mulai sedikit bergeser, nggak lagi soal siapa yang paling kurus. Mulai lebih beragam adanya.

Foto oleh RF._.studio dari Pexels
ilutrasi wanita bercermin

Gue pribadi, masih lebih suka ngeliat cewek percaya diri dibanding cewek cantik tapi nggak percaya diri.

Itulah kenapa tiap pagi, ketika gue bercermin, gue menipu diri sendiri dengan berkata “honey, you so gorgeous”. Meski perut sedang buncit-buncitnya.

Tapi bukan berarti ketika lo over weight, lo nggak perlu diet. Nggak juga, ketika lo pengen hidup lebih sehat dengan cara menurunkan berat badan, itu malah lebih baik.

Eh, lagunya Jesse Gold bagus-bagus ternyata. Kadang gue suka kepeleset nyebut namanya jadi Jess Glynne, yang lagu-lagunya banyak ngebantu gue tetap semangat ngelewatin hari yang buruk.

Jess Gold
Jess Gold


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels

Buat manusia yang kerjanya enam hari dalam seminggu, bisa pulang tepat waktu dihari sabtu, itu harta karun banget. Pengen cepat-cepat baring, meski besok, saat hari minggu juga lebih banyak dipake buat tidur.

Meski begitu, tak jarang terbersit sikap ingin produktif. Nah, berikut kegiatan yang jadi pilihan saya meski sendirian di malam minggu.

Membaca Apa Saja

Nah buat aktivitas membaca, nggak selalu harus dari buku, nggak melulu harus topik yang berat.

Pilihan bahan bacaannya random saja, bisa dari buku, artikel, komik, akun instagram, atau status teman yang lagi curhat.

Buku The Tales of Beedle The Bard karangan J.K Rowling selalu jadi pilihan saya ketika lagi nggak tahu mau baca apa. Ceritanya yang ringan dan mudah dipahami membuat saya betah membacanya lagi dan lagi.

Dengarin Lagu Random

Dengarin lagu kayaknya selalu jadi kegiatan wajib setiap harinya, nggak cuma di malam minggu. Pilihan lagu pun tergantung mood si pendengarnya. Lagi senang, sedih, atau lagi ngerasa biasa-biasa aja pilihan lagunya akan selalu berbeda.

Lagu raisa – tentang dirimu, jadi lagu pilihan yang menemani saya malam minggu ini.

Setelah beberapa waktu nggak ngikutin raisa, iseng mampir ke akun youtubenya, eh ternyata raisa ada ngeluarin lagu baru. Lagu tentang dirimu jadi lagu yang paling membekas buat saya pribadi.

Lucunya, meski lagu tentang dirimu adalah sebuah lagu sedih, saya malah senang dengarnya. Mungkin karena akhirnya, saya menemukan lagu patah hati terbaik kedua setelah lagu raisa – usai di sini.

Menonton : Dari Youtube Hingga Drama 

Kalau soal nonton, youtube deh juaranya. Youtube selalu jadi platform yang wajib dibuka setiap harinya. Entah buat lihat video random, video  pengetahuan, national geograph, atau hal lainnya.

Youtube selalu jadi penyelamat ketika nggak tahu mau ngapain di malam minggu kayak gini.

Tapi, kalau soal drama korea, pilihan menonton saya jatuh pada drama Monthly Magazine Home. Selain karena suka ama pemeran utama ceweknya, saya juga suka sama alur ceritanya yang ringan dan kocak.

Nelpon Teman

Kalau lagi malam minggu, trus lagi pengen ngobrol, salah satu opsinya bisa nelpon teman. Tapi kadang beruntung nggak beruntung.

Beruntung kalau teman yang ditelpon emang lagi pengen ngobrol. Nggak beruntung kalau teman yang ditelpon lagi dalam mode diam atau lagi nggak pengen ngobrol. 

Ngumpul Bareng Keluarga

Malam minggu juga bisa dijadikan sebagai ajang buat ngumpul bareng keluarga. Mungkin kalau waktu hari kerja jarang ngobrol, nah malam minggunya bisa dipake buat ngobrol bareng keluarga.

Ini berlaku buat kamu yang masih tinggal bareng keluarga, kalau tinggal sendiri atau ngekost sendiri, bisa lewat telpon atau video call.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Ed Sheeran and Taylor Swift (Photo Source: Twitter)

Sahabat, kayaknya jadi salah satu tipe manusia yang paling dicari selain jodoh. Saya pribadi sangat-sangat iri dengan orang yang bisa sahabatan dari kecil dan tetap awet hingga kini.

Meski dalam perjalanannya, suatu hubungan nggak lepas dari konflik. Entah salah paham, prinsip yang tak lagi sama, jatuh cinta ke orang yang sama, atau konflik lainnya.

Ada yang akhirnya baikan dan masih sahabatan sampai sekarang. Ada yang akhirnya milih buat pisah dan menjalani hidup masing-masing.

Apapun keputusannya, tiap orang punya pertimbangannya sendiri.

Si Teman Cerita Bernama Rino

Foto oleh Keira Burton dari Pexels

Saya pribadi punya satu orang sahabat. Tapi dibanding menyebutnya sebagai sahabat, saya lebih suka menyebutnya sebagai teman cerita.

Mari kita sebut saja dia sebagai Rino.

Berzodiak Taurus, punya pandangan yang beda tapi nggak bikin berantem, cenderung santai dan bodo amat, dan yang terpenting, Rino adalah pendengar yang baik.

Jika biasanya disetiap obrolan, saya selalu jadi pendengar, bersama Rino justru saya yang lebih banyak bercerita. Hanya di Rino saya berani bercerita apa pun yang terlintas dipikiran, bertanya soal pertanyaan bodoh dan tidak berkelas, tapi tetap didengarkan sepenuh hati tanpa dikata-katain dan di judge ini itu.

Walau menurut Rino sendiri, segala saran dan jawabannya kebanyakan omong kosong. Namun, siapa sangka, justru kata-kata omong kosongnya itu sangat berarti untuk seorang Felicia Latinka. Saya bisa mengisi kekosongan pertemanan dan dengan bangga menyebutnya sebagai teman cerita.

Dipertemukan Saat Keadaan Sedang Tidak Baik-baik Saja

Kami dipertemukan saat keadaan kami sedang tidak baik-baik saja. Sama-sama kesepian di tanah rantau. Tak punya teman untuk bertukar cerita yang malah menyatukan kami.

Ingat banget, dulu, Rino jadinya satu-satunya pengantar ketika saya akhirnya mengundurkan diri dan memilih pulang. Rino menjadi orang yang mendukung penuh keputusan saya saat itu. Dalam bis saya menangis, sedih karena nggak bisa ketemu lagi, sedih karena merasa jadi manusia gagal.

Saya lupa, kapan tepatnya, Rino akhirnya juga kembali pulang ke Jawa Timur.

Kabar Bahagia dari Rino

Foto oleh Jonathan Borba dari Pexels

Dulu saya pikir, saya bakal jadi orang pertama yang menjejakan kaki di pelaminan sebelum Rino. Nyatanya, saya harus berlapang dada dan melihat Rino berbahagia lebih dahulu.

Tapi gimana mau nikah? Calon saja belum punya. Jangan dulu bicarain calon deh, keinginan buat menikah saja belum ada.

Ngomongin soal nikah, saya justru dulu punya impian untuk menikah muda. Dulu kayaknya pengen banget nikah sehabis SMA. Tapi kalau saya pikir-pikir lagi, kayaknya keinginan itu terlintas hanya sebagai jalan pintas untuk keluar dari kerasnya didikan orang tua.

Sekarang kalau ngelihat orang menikah, rasanya bakal mikir seribu kali dan bilang, “aku jangan dulu deh, kamu aja dulu”.

Jadi meski sebenarnya ada rasa sedih waktu dengar kabar pernikahan Rino, saya akhirnya menurunkan ego dan mengucapkan selamat berbahagia kepada Rino. 

Bersiap untuk Perubahan

Foto oleh cottonbro dari Pexels

Setelah Rino menikah, tentunya akan ada banyak hal yang berubah.

Rino tentu tidak akan punya waktu luang seperti sebelumnya. Saya tentu sudah tidak bisa lagi menganggunya untuk mendengarkan cerita saya yang kebanyakan tidak penting.

Prioritas Rino berubah. Sudah ada wanita yang harus dibahagiakannya. Sudah ada wanita yang menjadi tanggung jawabnya.

Mungkin sekarang, rasa malu dan sungkan saya akan lebih besar.

Jalan satu-satunya adalah kembali mencoba membuka diri. Meski nyari teman cerita nggak semudah membalikan telapak tangan.

Ya, yang penting usaha, hasil akhirnya hanya Tuhan yang tahu.

Buat kalian yang akan segera menikah, saya ucapkan selamat berbahagia. Buat yang masih nyaman sendiri selamat menikmati waktumu, semoga menjadi manusia yang lebih baik lagi. Amin.

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Bulan April

Hai april, selamat datang. Wah udah bulan 4 aja, Blog ini juga sudah lama nggak gue isi. Mungkin karena kerjaan lagi banyak-banyaknya. Hampir tiap hari pulang malam karena ada sistem baru.

Jadi tiap kali pulang bawaannya cuma pengen cuci muka, nge-youtube, lalu tidur. Sungguh unfaedah sekali hidupku.

Kalian gimana Maretnya? Apakah berlalu dengan sangat baik, baik, cukup baik, biasa aja, atau buruk? Ini kayak pilihan jawaban kuesioner nggak sih?

Malas Baca Buku dan Lebih Memilih Drakor

Maret buat gue pribadi adalah bulan refleksi diri. Yang kalau gue bercermin, gue baru nyadar jerawat gue makin banyak. Apa hubungannya, coba?

Gue lagi mengingat-ngingat apakah bulan maret gue ada nyentuh buku? Sepertinya ada, cuma sepertinya di awal-awal bulan aja, selanjutnya full nonton drakor. Sepertinya gue lagi bosan ama buku, gue lupa apa sebutannya, tapi begitulah.

Gue rasa ini karena sehabis pulang kerja tentunya fisik dan pikiran udah cape. Sementara buku yang belum gue baca masuk dalam kategori buku pengembangan diri, yang tentunya kalau baca harus dengan kosentrasi penuh.

Nah, karena itulah gue lebih memilih untuk nonton drakor yang bertema ringan. Jadi kalau gue nonton nggak perlu mikir. Nah drakor yang jadi pilihan gue adalah Hello? It’s Me!

Jadi, drama Hello? It’s Me seperti angin segar di antara semua drama korea bertema thiller yang lagi pada on going.

Sumber foto dari KBS

Drama ini berkisah mengenai Ban Ha-Ni.  Wanita single berusia 37 tahun dengan karir dan hidup yang bisa dibilang tidak berhasil. Padahal semasa SMA Ban Ha-Ni adalah seorang gadis yang ceria dan mempunyai banyak penggemar di  sekolahnya. Lalu secara misterius, Ban Ha-Ni yang berumur 17 tahun, muncul di kehidupan Ban Ha-Ni yang yang berusia 37 tahun. Intinya Ban Ha-Ni tua ketemu Ban Ha-Ni muda. 

Selain drama Hello ? It’s Me, gue juga sangat bersyukur bahwa Running Man masih tayang sampai sekarang. Karena reality Tv show yang sudah mengudara sejak 2010 ini selalu berhasil menghadirkan gelak tawa. Dari para membernya yang super kocak dan guest  yang kadang tingkahnya nggak masuk akal.

Gue pribadi suka banget sama Kwang-soo dan Yoo Jae-suk. Kwang-soo dikenal suka mengkhianati anggota kelompoknya sendiri, kalau Yoo Jae-suk terkenal pintar. Kalau lagi perlombaan kuis, Yoo Jae-suk juaranya. Tapi Yoo Jae-suk dan Kwang –soo punya satu kesamaan, yaitu sama-sama sial. Yang kadang sialnya tuh bikin kita bertanya-tanya sendiri, kok bisa?

Biar gue kasih contoh. Di Running Man episode 143, ada sesi perlombaan mecahin telur di jidat. Jadi dari 30 telur yang ada, hanya ada satu telur mentah, yang lainnya adalah telur masak. Nah, waktu giliran Kwang-soo, bisa-bisanya dia malah dapat telur mentah, yang disambut gelak tawa dari member dan guest saat itu. 

Semakin Tua Semakin Sedikit Teman

Sebenarnya ini agak rancu sih. Karena bagi beberapa orang  semakin tua semakin banyak teman. Kenapa bisa gitu? Karena dari kita SD, SMP, SMA, kuliah, lalu bekerja, kita bakal selalu ketemu lingkungan baru, yang dimana kita juga pasti bakal ketemu orang-orang baru. Dari orang-orang baru itu yang kadang jadi rajin komunikasi dan akhirnya jadi teman deh.

Foto oleh Matheus Bertelli dari Pexels


Tapi kok buat gue enggak yah? Gue rasa, makin tua, gue makin susah nyari teman. Pertama, karena gue orangnya pendiam dan nggak gampang ngebuka diri. Terus muka gue yang pernah dikatai ‘seseorang’ telalu judes, jadi orang mau kenal juga mikir-mikir. Dan gue juga jarang memulai obrolan dengan orang yang nggak gue kenal.

Namun, sebenarnya gue juga mau bilang, kalau gue orangnya pemilih kalau soal teman.  Mungkin karena gue lebih mentingin kualitas dibandingin kuantitas.

Menurut gue, nggak perlu punya banyak teman, yang terpenting punya satu teman yang selalu ada di saat kita susah maupun senang. Tapi, ini juga kadang jadi bumerang  buat diri sendiri. Soalnya kalau lagi butuh bantuan, nggak tahu mau minta bantuan ke siapa. Trus kemana-mana nggak punya koneksi, nggak tahu siapa yang mau diandalin.

Lalu gue juga menghindari pertemanan yang di dalamnya terlalu banyak membicarakan keburukan orang plus terlalu menilai kehidupan orang lain. Jadi tiap kali ngumpul, ngebicarain orang aja terus.  Gue pasti bakal cape banget, ditambah gue yang kurang suka ngurusin hidup orang, yang tentunya, gabung dikelompok seperti itu bakal bikin gue sendiri nggak nyaman.

Rahasia juga jadi hal yang paling krusial buat gue. Karena jangan sampai apa yang kita ceritakan malah diceritakan kembali ke orang lain. Apalagi kalau ceritanya pas lagi ngerasa  down. Ya mungkin bagus kalau ceritanya malah bisa bikin orang lain makin bisa ngertiin kita. Kalau ceritanya malah di ceritain sebagai bahan tertawaan? Ya, yang udah down malah jadi semakin hilang harapan.

Buat gue, orang-orang yang bisa awet pertemanannya hingga tua, adalah orang-orang yang sangat beruntung.

Robert Waldinger, dalam sesi TEDx talknya berkata, 

“Good relationships keep us happier and healthier”

Atau bisa dibilang, hubungan yang baik membuat kita semakin bahagia dan sehat. Baik hubungan sosial  dengan teman, keluarga, ataupun dengan komunitas.

Belajar Bahasa Inggris yang Selalu Tertunda

Sejujurnya, gue orang yang pengen banget bisa jalan-jalan ke luar negri. Kayaknya bukan gue aja deh, semua orang juga pasti mau. Entah gimana caranya, yang penting mimpi aja dulu. Tercapai atau nggaknya, itu soal belakangan.

Dan salah satu bekalnya adalah belajar bahasa Inggris. Cuma, jangan mikir belajarnya di les-les gitu. Nggak sama sekali. Gue lebih banyak otodidak. Belajar lewat video-video di youtube.

Sewaktu sekolah, bahasa Inggris selalu jadi momok buat gue pribadi. Di saat teman-teman lain nggak ngalamin kesulitan buat ngikutin pelajaran, gue malah sibuk menghitung waktu, berapa lama lagi pelajaran bahasa inggris bakal selesai.

Gue baru nemu feel-nya kayaknya dekat-dekat mau lulus kuliah. Lama banget yah? haha. Emang selama itu sih gue baru bisa sedikit demi sedikit mengerti. Sedikit demi sedikit juga mulai PD buat nonton film pake subtitle bahasa Inggris. Tapi ya gitu, kurangnya masih banyak.

Pernah liat nggak meme yang bilang kalau waktu nonton pake subtitle inggris berasa sarjana. Bisa dimengerti, pokoknya jago dah. Tapi giliran disuruh speaking langsung berubah jadi bayi. Cuma bisa yes no yes no.

Sumber gambar dari channel youtube EnglishAnyone


Nah, jadilah gue niatin ke diri sendiri, latihan ngebaca artikel bahasa inggris tiap hari, kan kalau mau bisa ngomong ya harus belajar ngomong.

Tapi sayang seribu sayang, gue ini bukan orang yang konsisten. Gue cuma belajar bacanya tiga harian habis itu nggak pernah lagi.

Bulan april ini gue bilang ke diri sendiri, “Fel, nggak apa-apa, namanya juga belajar, yuk coba lagi”.

Pernah dengar nggak? bahwa orang yang belum siap untuk berubah, pastinya nggak bakal berubah.

Jadi, akan bagimanakah hasilnya? Kita tunggu saja.

 


Share
Tweet
Pin
Share
4 comments

Apa gue bisa ya? bahkan untuk punya sebuah surat tanah, gue masih nggak mampu. Apa lagi buat punya rumah.

Definisi sukses menurut bapak adalah anak yang punya rumah tiga tingkat, dengan satu lantai jadi miliknya.

Gue sedang dalam masa menyemangati diri sendiri. Gamang dengan pilihan hidup yang telah gue buat. Rasanya tak pernah menjadikan gue siapa-siapa. Bahkan tulisan ini pun, yang gue yakin pun tak akan jadi apa-apa. Hanya tertimbun bersama file word lainnya.

Cerita lelah yang kita sampaikan dan malah jadi bahan tertawaan buat bapak dan malah di ceritakan ke orang lain sebagai candaan. Menurut gue itu menyakitkan.

Untuk bercerita di seorang manusia bernama bapak saja itu butuh keberanian besar, mengalahkan ego diri sendiri, keberanian untuk jujur ke orang tua soal perasaanmu yang sebenarnya. Itu benar-benar butuh keberanian.

Karena pada akhirnya, anak adalah seorang manusia yang juga punya suara hati, yang juga punya pandangan, menyebalkan, menyedihkan, dan kesepian.

Gaji gue pas-pasan. Bahkan laptop yang ingin sekali gue beli, hingga kini belum mampu gue beli. Masih sedikit demi sedikit menabung. Apalagi untuk punya rumah tiga tingkat.

180 kata di atas, mungkin hanya terasa seperti omong kosong. Itu mah karena kamu kurang usaha? Itu karena kamu pemalas.

Mengapa kita selalu mengecilkan usaha orang? Tapi gue tahu sih, semuanya bakal tetap akan terlihat sebagai omong kosong selama itu belum menampakkan hasil. Selama itu belum jadi uang, itu semua akan tetap semu dan nggak berarti.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Saya sebenarnya ingin menulis artikel soal patah hati yang rencananya akan saya posting di kompasiana. Hanya saja, saya masih bingung akan saya khususkan kemana tema patah hatinya. Lalu jadilah saya kembali menatap kertas kosong. Menulis artikel baru ini.

Siapa disini yang orang tuanya rada-rada emosian atau emang emosian? Please raise your hand.

Kalau orang tua lagi mau marah, kadang kita pasti tahu. Aura-aura sekitarnya tuh berasa berubah. Kadang kalau udah tahu mau dimarahin, pilihannya ada dua. Pertama, menghindar. Kedua, mau ngehindar tapi udah kedapatan duluan ama ortu jadi nggak bisa kabur.

Biasa sebelum orang tua marah, pasti ada tanda-tanda awalnya. Persis seperti kalau mau ujan pasti mendung dulu.

Nah, berikut tanda-tanda yang biasa muncul sebelum orang tua marah, jadi persiapkan mental untuk menghadapinya.

Orang Tua Sama Sekali Tidak Menyapa

Pernah nggak pas kamu pulang, tiba-tiba udara di rumah berasa dingin. Dari yang awalnya pada ketawa-ketawa, eh pas kamu masuk, semuanya langsung pada diam. Berasa bakal segera ada badai yang terjadi.

Kalau kamu beruntung, kamu bisa ganti baju dulu, atau bahkan makan dulu. Kalau nggak beruntung, biasanya sih langsung disidang.

Saudaramu Tiba-tiba Menghilang

Ini nih, model saudara yang sukanya cari aman. Tapi ini cuma berlaku buat kamu yang punya saudara. Kalau nggak punya? silahkan menikmati predikat “anak tunggal”.

Hilangnya saudaramu itu bisa diartikan, pertama “saya nggak punya urusan dengan masalahmu jadi silahkan hadapi sendiri”. 

Kedua “wah akhirnya datang juga waktu untuk kamu merasakan amukan orang tua”. Ini berlaku kalau kamu selama ini cenderung dikenal sebagai anak yang nggak pernah bikin masalah.

Ketiga, “wah nanti kalau kondisinya mulai berbahaya, saya akan datang menyelamatkanmu”. Ya bisa aja saudaramu memantau dari jauh supaya nanti kalau ada apa-apa dia bisa segera mencegah hal yang nggak diinginkan terjadi.

Ibu, Saudaramu atau Siapa Pun itu Berkata “KAMU DIPANGGIL BAPAK”

Sebagai keluarga yang jarang banget bisa ngobrol panjang ama bapak, karena bapak dikenal sebagai makhluk yang hemat kata atau jarang bicara. Tiba-tiba dipanggil bapak, itu berasa kayak bakal dijeblosin kepenjara. Nakutin.

Langkah tuh dilambat-lambatin atau pura-pura sibuk. Ngehadap ke bapak dan udah tahu pasti bakal dimarahin, nggak pernah jadi hal yang menyenangkan.

Duduk Berdua Bersama Bapak dan Bersiap Mendengar Petuah

Disini, ada dua kemungkinan. Kalau pejelasanmu masuk akal dan bisa diterima. Selamat, kamu bakal balik kamar tanpa perlu berderai air mata. Kalau penjelasanmu malah menambah amarah bapak yang semula ada di kepala jadi di ubun-ubun. Maka berdoalah, semoga tidak ada aksi pertarungan ala-ala film Hollywood.

Nah, gimana? Ada yang cocok? Semoga saja ada. Artikel ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi, bukan berdasarkan survey dari pakar yang mumpuni. Jadi kalau nggak cocok, saya nggak mau tanggung jawab.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments




Kamu mungkin pernah punya momen abu-abu. Momen yang saya juluki sebagai momen tidak jelas. Mirip seperti warna abu-abu. Tidak hitam tapi tidak juga putih.

Pernah disuatu waktu, setelah jalan-jalan bersama kawan. Tertawa bergembira, ngeshare di sosmed betapa bahagianya waktu yang kamu lewati. Setelah kamu kembali ke kamar dan berbaring. Kamu hanya diam menatap langit-langit kamar. Hp yang biasanya selalu kamu mainkan, kali ini sama sekali tidak kamu sentuh.

Tiba-tiba saja sebuah lagu sedih keluar dari mulutmu. Dengan nada sumbang tanpa band pengiring. Air matamu jatuh, yang dengan cepat kamu menghapusnya.

Mungkin kamu punya momen lainnya. Saat kamu selesai bekerja dan pulang. Kamu terduduk di sisi tempat tidur. Mungkin kamu diam-diam ingin mengundurkan diri dari tempat bekerja saat ini. Drama kantor yang mulai membuatmu jengah dan lelah. Betapa sisi terburuk seorang manusia tergambar jelas saat kamu ada di tempat kerja yang sama.

Niatmu yang terhambat karena mencari kerja susah dan beban tanggungan yang harus kamu bayar. Entah untuk orangtua, saudaramu, atau dirimu sendiri.

Atau kamu yang sekarang sedang mendengarkan musik dan memperhatikan kendaraan yang lewat. Setelah semua usaha demi usaha untuk membuktikan diri pada orangtua ternyata tidak membuahkan hasil. Pertengkaran dengan orangtua yang membuatmu harus angkat kaki dari rumah. Ternyata hal yang kamu pikir akan berhasil nyatanya hanya sebuah omong kosong ketika dihadapkan dengan realita.

Kamu, yang sudah berumur seperempat abad  namun masih belum kepikiran untuk menikah. Mendapati mantanmu kini sedang merencanakan pernikahan dengan pasangannya kini. Ternyata membuatmu sedikit iri. Mengapa dulu saat bersamaku dia tidak pernah kepikiran untuk menikah?

Terkadang hal bahagia yang sudah kamu lakukan bisa kapan saja berubah menjadi momen abu-abu. Yang membuatmu memilih lagu sedih dan mendengarkannya semalaman.

Momen abu-abu yang kadang takut kamu untuk ceritakan ke orang lain. Karena bila diceritakan mungkin akan membuatmu tampak bodoh.

Bagaimana harimu hari ini? Apakah  momen abu-abu datang menghampirimu hari ini?


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 


Saya masih terduduk menatap layar laptop saat jam sudah menunjukkan pukul  4 pagi. Dari sejam yang lalu saya mencoba melakukan sesuatu, mencoba menulis tapi berakhir tanpa sepatah kata pun tertulis. Pada akhirnya saya memilih untuk berselancar ria di youtube. Mendengarkan lagu terbaru dari Zara Larsson.

Saya sebenarnya bukan tipe orang yang bisa begadang. Jam tidur saya selalu di bawah jam sembilan malam. Salah satu faktor yang bisa membuat saya tidak bisa tidur tentu saja ketika ada masalah. Yang tak jarang mempengaruhi fisik dan psikis.

Sampai di hari kedua saya sadar bahwa maag saya kambuh dan membuat saya sadar bahwa saya sedang membunuh diri saya sendiri. Saya akhirnya memaksa makan dan meminta maaf ke diri sendiri.

Tentu ketika ada masalah tak jarang kita akan menyalahkan diri sendiri. Memaki diri karena tidak kompeten. Mempertanyakan diri sendiri mengapa bisa salah. But in the end, that’s not your fault.

Kita kadang lupa bahwa diri kita juga telah berusaha, memastikan semuanya benar sesuai aturan. Lupa kalau semua yang terjadi nggak selalu kesalahan dari kita. That just other people take a blame on you.

Momen ini membuat saya sadar betapa beratnya dunia kerja.Ya walaupun saya memang sudah tahu. Tapi ini seperti sadar season kedua.

Momen ini juga membuat saya memikirkan bapak. Bapak kok nggak pernah cerita apa-apa ya soal kerjaannya? Bapak selama ini selalu tampak baik-baik saja. Bapak sama sekali nggak pernah ngeluh betapa beratnya nyari uang.

Selain itu, beberapa waktu lalu saya kehilangan teman cerita. Mungkin itulah mengapa sekarang lebih kerasa di psikis, karena nggak tahu mau cerita ke siapa.

Saya teringat kutipan yang sangat membekas dari buku Dee Lestari berjudul Partikel yang merupakan salah satu seri Supernova. Begini bunyinya :

“Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu malah tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu.”

Kehilangan teman cerita itu seperti harta karun yang kamu cari sedari lama tapi tiba-tiba hilang kembali. Entah ditelan badai atau sengaja dihilangkan.

Karena untuk saya yang seorang introvert, sangat tidak mudah untuk membuka diri. Dan tidak semua orang bisa benar-benar mendengarkan tanpa menjudge. Tidak semua orang mau menyediakan telinganya untuk mendengar.

Nggak jarang waktu dapat masalah gini ada beberapa orang yang lebih pengen jadi bocah aja tanpa perlu tumbuh dewasa.  Kita tuh kadang emang nyadar bahwa hidup pasti akan selalu ada masalah.Tapi pas masalahnya ada, tetap aja masih berasa hancur.

Adalagi nih yang absurd, ada yang minta biar cepat-cepat kiamat aja. Biar dunia bisa segera berakhir. Yang buat saya mengajukan pertanyaan kenapa nggak minta malaikat maut aja yang cepat datang? Yang dijawabnya nggak mau, dengan alasan dia nggak mau mati sendirian.

Tapi diakhir cerita,semuanya harus kita hadapi sendirian. Kita selalu punya pilihan,mau bersikap seperti apa, mau jalan keluarnya seperti apa, mau meninggalkan atau bertahan. Semua tergantung pilihanmu.

Sepertinya saya harus segera tidur, sudah lewat 30 menit dari jam 4. Bapak juga sudah bolak-balik menyuruh saya tidur. Mata juga mulai ingin tertutup.

Sebelum berangkat tidur, saya mendengar dua kucing sedang nyaring mengeong. Sepertinya memperebutkan daerah kekuasaan.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

 


Hai. Saya Felicia Latinka. Bisa disapa dengan Feli. Lahir dan besar di kota kecil bernama Bima. Pernah merantau lalu akhirnya kembali pulang. Suka baca dan nonton drama korea. Kalau ada waktu luang suka jalan sendirian.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram

recent posts

Postingan Populer

  • Pantai Lariti : Laut Terbelah Versi Masa Kini
    Pantai Lariti : Laut Terbelah Versi Masa Kini
  • Maret : Bulan Refleksi Diri dan Susahnya Mencari Teman
    Maret : Bulan Refleksi Diri dan Susahnya Mencari Teman
  • Menikmati Air Terjun Oi Marai Di Kaki Gunung Tambora
    Menikmati Air Terjun Oi Marai Di Kaki Gunung Tambora
  • Pantai Sekoci Kolo dan Cara Sederhana Menikmatinya
    Pantai Sekoci Kolo dan Cara Sederhana Menikmatinya
  • Tentang Si Teman Cerita
    Tentang Si Teman Cerita
  • First Date Di Akhir September Yang Berakhir Gagal Dan Beberapa Alasannya
    First Date Di Akhir September Yang Berakhir Gagal Dan Beberapa Alasannya
  • Me Time Sederhana di Jalanan Sambinae
    Me Time Sederhana di Jalanan Sambinae
  • Menikmati Dua Sisi Bima dari Puncak Jatiwangi
    Menikmati Dua Sisi Bima dari Puncak Jatiwangi
  • Awal Mula Perjalanan
    Awal Mula Perjalanan
  • Saat Sendiri di Malam Minggu
    Saat Sendiri di Malam Minggu

Part of

Blogger Perempuan

Categories

  • About
  • BPN 30 Day Ramadan Blog Challenge 2022
  • Home
  • Random
  • Travelling

Blog Archive

  • April 2022 (1)
  • Oktober 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (2)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (1)
  • Februari 2021 (1)
  • Januari 2021 (1)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (4)
  • Oktober 2020 (1)
  • September 2020 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Created with by ThemeXpose