• Home
  • About
  • Travelling
  • Review
  • Random
  • Contact
facebook twitter instagram pinterest Email

Felicia Latinka

Air Terjun Oi Marai di Kaki Gunung Tambora


Matahari sudah teramat terik saat rombongan kami melintasi jalanan Tambora menuju air terjun Oi Marai Tambora.

Yup, untuk perjalanan kali ini, saya tak berani untuk berpetualang berdua saja, perjalanannya terlalu jauh, memakan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan ditempuh dari pusat Kota bima.

Melewati Sila, Dompu, Kempo, Sanggar, Piong dan nama-nama daerah lainnya yang sudah tak mampu saya hafal.

Padang Savana Yang Membentang Di Sepanjang Jalan Tambora

Padang Savana di Jalanan Tambora
Padang savana yang menghampar luas di sekitar jalanan Tambora

Padang savana yang menurut beberapa sumber memiliki luas lebih dari 2.000 ha. Membentang luas disepanjang perjalanan.

Rasa-rasanya seperti menonton kartun Oscar’s Oasis versi live tanpa pemeran utama.

Savana sendiri merupakan daerah vegetasi padang rumput yang ditumbuhi pohon atau sekelompok pohon dengan jarak yang terpencar-pencar.

Karena luasnya padang savana, menjadikannya banyak digunakan sebagai padang gembalaan. Sehingga akan banyak kita temui hewan ternak seperti kambing dan sapi yang di ternak dengan sistem lepas liar.

Tak jarang saat melintasi jalanan tambora, kambing dan sapi akan kita temui sedang menyebrang atau berjalan berkelompok. Jadi harap berhati-hati ya saat memacu kendaraan.

Meski dilepas liar, ternak yang ada sudah diberi tanda oleh si pemilik sehingga tidak akan tertukar dengan hewan ternak lainnya.

Hampir 80% kebutuhan sapi dan kerbau sumbawa di suplai dari daerah Tambora. Biasanya para pembeli datang dari Kabupaten Bima, Dompu, atau pun dari luar pulau Sumbawa membeli langsung hewan ternak yang ada di Tambora.

Letusan Tambora Yang Akan Selalu Dikenang Dunia

Gunung Tambora (Sumber : Facebook Balai Taman Nasional Tambora)

Dari sisi jalan lainnya, Gunung Tambora berdiri menjulang tinggi dengan gagahnya.

Tambora yang awalnya memiliki ketinggian 4200 meter, sempat menjadikannya ada dijajaran salah satu gunung tertinggi di Indonesia, sebelum akhirnya meletus pada bulan April 1815 yang tingginya kini menjadi 2851 meter dari permukaan laut.

Tambora kehilangan hampir separuh tinggi dan volumenya. Ledakan Tambora menyisakan lingkar kaldera berdiameter 7-8 kilometer dengan kedalaman mencapai 1 kilometer.

Meski Tambora terletak di Pulau Sumbawa, yang dimana Sumbawa sendiri hanya sebuah pulau kecil dalam peta. Keberadaannya hampir tak banyak disebut.

Namun siapa sangka, letusan Tambora justru masuk dalam jajaran letusan gunung berapi paling berbahaya dan paling berpengaruh dalam sejarah dunia karena tidak hanya berdampak pada masyarakat lokal namun juga masyarakat global.

Letusan Tambora dikatakan lebih besar empat kali lipat dibanding letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883.

Abu vulkanik dari letusan gunung Tambora menyebabkan Sumbawa, Lombok, Bali, Madura dan sebagian Jawa Timur gelap gulita selama tiga hari. Sehingga membuat masyarakat menyalakan lilin meski disiang hari atau sebenarnya pagi dan malam hampir tak bisa dibedakan karena sama gelapnya.

Menurut beberapa sumber, suara dentuman meletusnya gunung tambora diperkirakan juga terdengar hingga Sumatera.

Saya nggak bisa bayangin seberapa besarnya suara ledakan tambora, saat meletus, dulunya.

Setelah Tambora meletus, bencana selanjutnya menunggu.

Kelaparan terjadi di seluruh wilayah Sumbawa. Banyak lahan yang gagal panen, sumber pangan hilang dan hewan ternak pun banyak yang mati. Air tercemar karena bercampur dengan abu vulkanik.

Kala itu, suami rela menjual anak dan istrinya hanya untuk ditukarkan dengan sejumlah pangan. Emas, perak, tembaga, keris, dan harta lainnya di jual murah.  Penduduk yang miskin hanya bisa mengonsumsi dedaunan seperti sirih hingga keakar-akarnya. Namun banyak juga yang meninggal, karena memakan daun ubi beracun.

Tidak hanya di Sumbawa, beberapa wilayah di Nusantara pun ikut gagal panen dikarenakan tidak adanya matahari karena tertutup oleh abu vulkanik.

Tak cukup disitu, letusan Tambora juga menyebabkan anomali iklim dalam kurun waktu dua atau tiga tahun setelahnya.

Hal ini dikarenakan atmosfer bumi yang dipenuhi oleh sulphuric acid atau asam sulfat yang dilontarkan oleh letusan Gunung Tambora. Asam sulfat menyerap dan memantulkan kembali sinar matahari dan juga menyerap panas dari bumi.

Sehingga terjadi pemanasan di atmosfer namun pendinginan di bawah atmosfer bumi yang menyebabkan iklim global terganggu. Berbagai musim diberagam bagian bumi mengalami penyimpangan dari biasanya.

Dan pada akhirnya terjadi gagal panen di beberapa negara yang menyebabkan harga bahan pokok meningkat tajam. Angka kejahatan meningkat karena terbatasnya pangan.

Daya beli masyarakat menurun. Banyak masyarakat kelas menengah yang jatuh miskin.

Letusan Tambora memberikan dampak langsung berupa kerusakan lingkungan, kematian berbagai mahluk hidup, kekeringan, kelaparan, dan munculnya bergam penyakit. Dan juga memberikan dampak tidak langsung pada kondisi ekonomi, sosial, dan politik. Meskipun lokasi yang berdampak jauh dari pusat letusan Tambora di Sumbawa, Indonesia.

Biodiversitas Flora dan Fauna Di Taman Nasional Tambora

Elang Flores yang ada di Gunung Tambora (Sumber : Facebook Balai Taman Nasional Tambora)

Selama perjalanan menuju Oi Marai Tambora, kita juga akan bertemu dengan Taman Nasional Gunung Tambora yang menyimpan biodiversitas flora dan fauna yang begitu beragam.

Pada pertengahan April 2015 dilakukan ekspedisi di gunung tambora untuk mendata dan membandingkan keanekaragamanan flora, fauna dan mikroba yang ada di gunung tambora.

Bertotal 48 orang, yang dimana 16 di antaranya merupakan peneliti dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang terdiri dari 7 orang bidang flora, 7 orang bidang fauna dan 2 orang bidang mikroba.

Ekspedisi juga melibatkan 19 orang warga desa dari Kawinda To’i, dimana warganya dikenal sebagai pencari madu di Hutan Tambora. 

Dari hasil ekspedisi tambora, didapatkan :

·       46 jenis spesies burung,

·       21 spesies reptile,

·       4 spesies amfibi dari berbagi marga,

·  10 spesies mamalia yang terdiri dari 3 spesies kelelawar, 3 spesies tikus, 1 spesies primata, 1 spesies musang dan beberapa mamalia lain seperti babi dan rusa yang banyak ditemukan melintas di jalan.

·  Sedangkan kelompok kerabat kalajengking,kalacemeti dan laba-laba ditemukan sedikitnya sepuluh spesies.

·       Kelompok serangga seperti kupu-kupu malam tercatat sedikitnya 230 spesies

·    Kelompok Tawon sedikitnya ditemukan 27 spesies dan dua spesies lebah madu yang sangat potensial nilai ekonominya. 

Selain itu, juga terdapat burung migrant seperti Merops ornatus, Hirundo rustica, Apus pasificus, dan  Tringa hypoleucos.

Disamping itu, terdapat sebanyak 6 jenis burung endemik Nusa Tenggara tercatat menghuni kawasan Gunung Tambora seperti Caridonax fulgidus dan Otus silvicola.

Dan masih banyak keragaman fauna yang versi lengkapnya dapat dibaca di jurnal lengkap Ekpedisi Tambora.

Dari keanekaragaman flora, ekspedisi tambora menemukan total sebanyak 393 spesimen. Hasil identifikasi menunjukkan terdapat 207 jenis tumbuhan tingkat tinggi dan 56 jenis paku-pakuan, dan teridentifikasi 16 jenis lumut dan 9 jenis jamur.

Tentu keberagaman flora dan fauna yang ada di gunung tambora sangat menarik untuk dikunjungi baik bagi wisatan lokal maupun mancanegara.  

Selain dari hasil penelitian tersebut kita juga masih bisa menikmati beragam fauna dan flora yang ada di akun sosial media Balai Taman Nasional Tambora yang banyak menyajikan cerita dari gunung tambora.

Menikmati Air Terjun Oi Marai Di Kaki Gunung Tambora

Air Terjun Oi Marai di kaki gunung Tambora

Sebagai pecinta air terjun, tentu yang menjadi tujuan utama perjalanan saya kali ini adalah Air tejun Oi Marai.

Jalur perjalanan yang terasa seperti tidak berujung ini membuat saya teringat akan lagu Taylor Swift yang  berjudul Out of The woods. Apakah kita sudah dekat? Apakah kita sudah sampai?

Tak terbayang senangnya saya, Ketika akhirnya melihat gerbang masuk bertuliskan Selamat Datang di Wisata Air Terjun Oi Marai.

Masih ada jalanan berbatu dan berpasir yang harus di lewati sampai akhirnya sampai di parkiran air terjun Oi Marai dengan membayar tiket 10.000/motor dan 20.000/mobil.

Belum, perjalanannya belum selesai, rombongan masih perlu berjalan kaki kurang lebih 5 menit untuk sampai ke stan pembelian karcis masuk air terjun Oi Marai yang dibayar 7.500/orang.

Dari sini rombongan diperingatkan untuk selalu menjaga kebersihan tempat wisata dengan tidak membuang sampah di sepanjang perjalanan menuju air terjun Oi Marai.

Bekal makanan yang dibawa dipersilahkan untuk dinikmati di baruga yang telah disediakan. Pengelola tidak memperbolehkan pegunjung membawa  makanan ke lokasi air terjun.

Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga kebersihan air terjun Oi Marai serta menjaga dan melindungi hutan yang ada di sepanjang Air Terjun Oi Marai. Tempat sampah telah disediakan di dekat stan pembelian karcis, sehingga pengunjung tidak membuang sampah sembarangan.

Mari memulai langkah kecil dengan tidak membuang sampah sembarangan di tempat wisata agar kebersihan dan kealamiannya tetap terjaga.

Setelah dari tempat pembelian karcis, kita masih perlu berjalan kaki kurang lebih 15 menit. Jadi kuat-kuatin kaki ya.

Tenang, medan jalan sudah sangat tertata rapi, pembatas jalan yang terbuat dari kayu tampak kokoh disepanjang jalan menuju air terjun.

Tangga yang perlu didaki pun dalam kondisi yang sangat baik di tengah rimbunnya pepohonan.

Beberapa pengunjung terlihat sedang berfoto bersama saat rombongan kami tiba.

Perjalanan yang melelahkan seperti terbayar tuntas menyaksikan derasnya debit air terjun Oi Marai yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 15 meter.

Air Terjun Oi Marai yang mengalir deras
Rombongan yang sedang menikmati aliran air Air Terjun Oi Marai Tambora

Ketinggian air yang hanya sampai selutut orang dewasa membuat siapa pun bisa menikmatinya. Tapi tentu tetap dalam pengawasan orang dewasa untuk anak-anak.

Anggota rombongan sudah berganti baju dan bersiap menceburkan diri menyatu bersama aliran air terjun tambora.

Semua tampak gembira. Beberapa pengunjung fokus mencari spot foto yang bagus, meloncati beberapa batu dan menetapkan sudut foto mana yang paling baik.

Beberapa lagi duduk di aliran air yang lebih pendek, menikmati sensasi pijatan air yang mengalir.

Saya duduk mengamati tersenyum bahagia menikmati semuanya. Menikmati betapa kayanya alam Indonesia yang salah satunya terletak di kaki gunung tambora ini.

Tetap jaga kesehatan dimana pun kalian berada, semoga corona bisa cepat berlalu. Sehingga kita semua bisa kembali bebas mengunjungi tempat yang kita ingini tanpa perlu khawatir adanya pembatasan di beberapa daerah.

 

Referensi

Wibisono, Sonny C. 2017. Bencana dan Peradaban Tambora 1815. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Hidayatullah, M.  2016. Potensi Savana Di Kawasan Gunung Tambora Pulau Sumbawa-Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kupang : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang


biologi.lipi.go.id.  2017. Ekspedisi Tambora. Diakses pada 16 Agustus 2021 dari http://www.biologi.lipi.go.id/zoologi/index.php/article-categories/157-ekspedisi-tambora.


Santika, Yessi dan Arief Hidayat. 2017. Keanekaragaman tumbuhan tinggi dan paku-pakuan di Gunung Tambora, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat: 200 Tahun Setelah Letusan  dan Potensinya. Jakarta-Bogor : Herbarium Bogoriense, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

 


Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Pantai Lariti Sape


Pantai Lariti terletak di Desa Soro, Kecamatan Lambu Sape. Dapat ditempuh dengan lama perjalanan kurang lebih 3 jam dari pusat kota Bima. Dengan medan jalan yang meliuk-meliuk seperti ular. Abis ketemu liuk, liuk lagi. Jadi pastikan yang membawa kendaraan adalah yang expert . Gue pribadi ampe pusing liat jalanannya. Tapi untuk kondisi jalan, tenang saja, mulus kok.

Pantai Lariti merupakan salah satu top list  wisata akhir pekan, baik bagi warga kota maupun kabupaten Bima.

Gue rasa, siapa pun yang berkunjung ke Lariti, yang paling di incar adalah terbelahnya laut Lariti dan terbentuknya  jalan yang menghubungkan Lariti dengan pulau kecil di seberangnya.

Kalau kamu pernah dengar kisah terbelahnya lautan di kisah Nabi Musa a.s, nah Pantai Lariti ini versi masa kininya. Cuma nggak perlu pake mukulin tongkat ke tanah dan nggak ada tentara Firaun yang ngejar-ngejar. Yang kamu perluin, cukup punya kesabaran tingkat tinggi buat nungguin alam membuka dirinya kepadamu. Simplenya, sabar nungguin lautannya surut.

Nah, jam-jam berapa sajakah itu? Dari hasil nanya-nanya, ada yang bilang datanglah di pagi hari, maskimal jam 7 pagi atau datanglah di jam 5 atau 6 sore. Tapi beberapa teman yang sudah berkunjung katanya sih jam 3-an sudah surut. Sementara sewaktu gue berkunjung, jam 3 sore lariti masih belum surut. Jadi tergantung keberuntungan masing-masing. Dan jangan lupakan gaya gravitasi bulan.

Sebagai seorang newbie dalam hal mengenal Lariti dan sedang tidak beruntung. Jadilah laut terbelahnya tidak gue saksikan.

Tapi apakah gue kecewa? Tentu saja tidak. Banyak hal yang masih bisa dinikmati dari Lariti. Contohnya banyak spot intragramable yang kalau di foto bisa nambah like.


Pantai Lariti Sape

Buat gue pribadi, Lariti sangat ramah buat manusia yang suka main air tapi nggak bisa berenang seperti gue ini. Kenapa? Karena walaupun lairitinya belum terbelah, jalan di bawah lautnya bakal bisa dijadikan pijakan buat menyebrang ke pulau sebelahnya.

Jadi sebenarnya, tanpa nungguin laritinya surut pun kita sudah bisa nyebrang.

Kalau mau lebih aman main airnya, bisa sewa ban, cukup dengan harga 10.000 rupiah.

Ngambang di tengah laut sambil nikmatin langit biru, ngupingin bapak-bapak yang lagi ngasih wejangan ke anaknya, atau ngeliatin pasangan yang lagi kasmaran. Ah, betapa nikmatnya liburan kali ini.

Oh ya, Lariti sendiri termasuk pantai yang berpasir halus, jadi nggak usah takut kaki bakal tertusuk karang ketika main air.


Nah, dari segi fasilitas, Lariti termasuk tempat wisata yang punya fasilitas yang cukup baik. Ada WC, ruang ganti, tempat makan, warung, gazebo, dan mushola.

Cuma ya gitu, kalau di tempat wisata jarang nemuin ruang ganti yang airnya cukup buat bilas dan WC yang cukup bersih. Jadi tidak usah berekspektasi terlalu tinggi.

Gazebo yang ada di lariti, berjumlah cukup banyak. Berderet dari ujung ke ujung.


Kalau lagi nggak mau di gazebo, bisa duduk di kursi yang ada di pinggir pantai. Tapi kalau lagi kehabisan tempat, tinggal gelar tikar aja. Heheh.

Warung yang sediain makanan juga banyak, mau ikan bakar juga ada, mau indomie ada, mau kopi panas ada. Tapi makanan yang selalu jadi pilihan gue pribadi kalau ke tempat wisata, kalau nggak indomie, ya pop mie.

Biasanya pengunjung yang datang ke Lariti, membawa serta keluarga besar yang jumlahnya rata-rata lebih dari lima orang. Jadi biasanya kalau lagi musim libur bakal rame banget.

Dan kalau kamu datangnya cuma berdua aja, seperti diriku ini. Jangan ngerasa kesepian di tengah keramaian ya. Heheh.

Yang penting teman jalanmu nyambung dengan dirimu dan kamu nyaman dengannya. Gue rasa itu saja sudah cukup.


Oh ya, kalau kamu bosan nungguin Lariti terbelah, biar gue kasih saran.

Kalau kamu perhatiin, biasa bakal ada kapal yang ngangkutin pengunjung ke pulau-pulau sekitar lariti. Kamu bisa ikut menjelajah, dengan cukup sewa 20.000 per orang, itu sudah termasuk ongkos pulang pergi, jadi menurut gue murah.

Izinkan gue berkisah sedikit, sebenarnya awalnya ngikut-ngikut aja. Lihat perahu berhenti dan liat ada rombongan naik, ikutan naik. Tanpa tahu sebenarnya tujuannya ke mana. Tanpa ekspektasi apa pun. Pokoknya chill aja lah.

Dan ternyata, tujuannya adalah Pulau Bidadari, yang menurut gue lebih privat dan orang yang kesini lebih sedikit.

Gue bakal bilang, gue lebih jatuh cinta sama Pulau Bidadari di banding Lariti.


Walau pulaunya nggak terlalu luas dan cenderung kecil, tapi pasirnya lebih putih dan airnya lebih jernih. Mirip foto pantai yang banyak beredar di google dan akhirnya bisa gue temukan nyatanya. Ya seperti pulau bidadari ini.

Back to lariti. Sejujurnya dalam pikiran, gue memetakan jalan ke lariti seperti dora lagi bacain petanya. Apakah kamu melihat bukit?

Gue meringkasnya menjadi lewati perkampungan – lewati bukit – ketemu hutan mangrove – pantai lariti.

Oh ya, sebelum ke lariti, coba nyempatin foto di 0 km Sape. Yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan. Gue pribadi, baru tahu kalau sape punya 0 km.


Tugu 0 km ini biasa jadi persinggahan komunitas touring. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jejak stiker yang di tempelkan di papan samping kiri kanan tugu.

Waktu itu sih pengen ikut ninggalin jejak tapi lupa bawa alat tulis. Jadi ya udah, cukup foto-foto saja.

Akhir kata, selamat berakhir pekan. Buat yang udah balik kerja sementara yang lain masih liburan. Tetap semangat ^^.

                                        

.

Share
Tweet
Pin
Share
4 comments

 

Deretan Uma Lengge


Saya menoleh ke belakang, saat seorang rekan kerja tiba-tiba menepuk pundak dan bertanya,

“kemarin ke wawo ya?”

Saya dengan tatapan bingung dan menyelidik, menatapnya heran, bagimana dia bisa tahu?

“Pakai motor supra kan? Kemarin aku liat kamu boncengan ama temanmu”

“Wah, berarti Feli harus lebih hati-hati lagi nih” jawab saya dengan nada bercanda yang disambut tawa olehnya.

Rayon namanya, salah satu rekan kerja yang setahu saya juga suka travelling. Hanya saja dia punya grup travelling sendiri, begitu pula saya. Jika grup travellingnya berjumlah lebih dari lima orang, grup saya hanya berjumlah dua orang. Saya dan rekan saya bernama Yuda yang juga rekan satu kerja. Karena alasan privasi, saya dan Yuda lebih memilih untuk merahasiakan perjalanan.

Di sela istirahat kantor, pikiran saya melayang kembali ke perjalanan Wawo yang sebenarnya dibuka dengan keisengan saya mengganggu hari minggu pagi Yuda.

***

Persawahan sambinae
Pemandangan yang mirip dengan gambar gunung dan sawah yang sering kita gambar saat SD dulu


Saya menepi di jalanan Sambinae setelah sebuah ide iseng muncul. Telpon saya akhirnya diangkat setelah ketiga kalinya saya menelpon. Wajar saja, ini hari minggu, waktunya untuk tidur hingga siang setelah satu minggu bekerja.

“Halo” Terdengar suara parau dari seberang.

“Halo Yud, sorry ganggu. Feli lagi jalan nggak tentu arah dan emang nggak tahu mau kemana. Haha” Jawab saya.

“Emang lagi dimana?” Jawabnya masih dengan suara parau.

“Ini lagi di Sambinae, merhatiin sawah.”

“Sambinae? Dekat rumah aku Fel, ke depan rumah aja, yang dekat warung bakso. Tahukan?”

“Oh iya, aku tahu.”

Tak sampai sepuluh menit, saya memarkir motor di depan warung bakso dan mengirim pesan singkat pada Yuda.

Yuda muncul dengan kaos navy lengan panjang, celana jeans abu-abu dan sandal gunung khasnya. Setelah mengobrol beberapa lama, tujuan perjalanan akhirnya ditentukan, yaitu Wawo. Sebuah daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Dengan alasan keselamatan, mengingat saya yang tidak terlalu jago bawa motor, Yuda memilih memarkirkan motor saya di garasi rumahnya dan kami berangkat menggunakan motor supranya.

Hijaunya Jalanan Wawo

Saya sibuk mengamati jalanan sembari mendengarkan lagu dari album terbaru taylor swift, evermore, yang beberapa waktu lalu baru dirilis dan masuk dalam daftar plalylist lagu yang saya dengar berulang kali.

Yuda sesekali bercerita mengenai beberapa daerah yang sudah pernah dikunjunginya disepanjang perjalanan. Tentang daerah di atas gunung yang sempat menjadi tempat suting Bolang.

 

Jalan Wawo


Sejujurnya, saya pikir, bima hanya terdiri dari daerah panas, salah satu first impression yang sering dikatakan oleh orang yang baru pertama kali mengunjungi bima, nyatanya bima juga punya daerah dingin seperti Wawo. Saya harus akui, saya jatuh cinta dengan jalanan wawo. Hijau, mulusnya jalanan, dan pemandangan yang ditawarkan membuat saya jatuh cinta untuk perjalanan kali ini.

Beberapa spot jalan ada yang di sulap sedemikian rupa hingga menjadi spot instragamable. Beberapa ada yang membutuhkan karcis masuk, beberapa ada yang gratis.

Kamu akan menemukan sekumpulan monyet disepanjang jalanan wawo yang menunggu dengan sabar jika ada beberapa pengendara yang bersedia melempar buah, snack, susu, atau makanan lainnya. Hanya saja tak jarang monyet yang ada ikut berlari mengejar pengendara sehingga tampak seperti akan di gigit, sehingga jika tak cukup hati-hati kendaraan malah akan menabrak si monyet dan akan berujung pada kecelakaan. Jadi tetaplah waspada.

Saya menepuk pundak yuda dan mengatakan bahwa saya lapar. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, yang saya tahu kami sama-sama belum sarapan. Yuda berhenti di sebuah warung yang menjual lalapan dan bakso yang di jaga seorang gadis dan seorang pria yang nampak seperti sedang berlatih menyanyi sambil memetik senar gitar.

 “Jadi mau kemana? Sape?” Yuda memecah keheningan setelah semangkuk bakso disantapnya tak kurang dari sepuluh menit.

Saya yang sedang menyantap bakso terdiam. Memang sedari awal ini memang perjalanan tanpa arah, bahkan tujuan akhirnya pun sampai sekarang masih belum betul-betul ditentukan. Yang hanya ditentukan adalah kami akan ke Wawo.

Sadar akan kebingungan saya , yuda memberi pencerahan “Nggak mau ke kolam renang? Dari sini lumayan dekat”.

“Sepertinya enggak, aku nggak bawa baju ganti”.

“Gimana kalau Uma Lengge? Cuma perlu balik arah dan belok kanan di gang yang udah kita lewatin”.

“Uma Lengge?” Nama yang sudah pernah saya dengar sedari SMP dan sering jadi tujuan wisata sejarah selain Asi Mbojo. Namun sayangnya sebagai anak rumahan, uma lengge masuk dalam daftar yang belum pernah saya kunjungi.

“Boleh deh”. Jawab saya mengiyakan.

Situs Wisata Uma Lengge

Tak sampai lima menit, kami tiba tepat di depan gerbang Uma Lengge. Setelah mengisi buku tamu dan menyumbang seadanya. Saya mengedarkan pandangan ke kompleks Uma lengge yang menyimpan banyak sejarah.


Gerbang Uma Lengge


Uma Lengge yang saya kunjungi terletak di Desa Maria, kabupaten Wawo. Dimana pada tahun 2011, Kompleks Uma Lengge telah dinobatkan sebagai desa budaya oleh pemerintah Kabupaten Bima.

Uma Lengge merupakan rumah tradisional dari suku Mbojo yang diperkirakan sudah ada sejak tahun  ke-12 Masehi sampai dengan tahun 1960 yang dahulunya difungsikan sebagai tempat tinggal dan lumbung padi. Namun kini hanya berfungsi sebagai lumbung padi.

Hampir 75% masyarakat Desa Maria berprofesi sebagai petani, sehingga keberadaan lumbung padi sangat penting bagi ketahanan pangan.

Uma Lengge berasal dari bahasa Bima, dimana Uma berarti rumah dan lengge berarti mengerucut. Jadi secara bahasa, Uma Lengge berarti rumah yang (atapnya) mengerucut.

Uma Lengge memiliki tiga bagian utama. Pondasi yang merupakan dasar dari uma lengge yang dimana dibuat agak tinggi untuk meghindari binatang buas. Lantai satu yang biasa digunakan sebagai tempat bercengkrama dan bermusyawarah. Lantai kedua sekaligus atap yang digunakan sebagai lumbung padi.

Jika kita mundur ke masa lalu, pada tahun 1957, terjadi kebakaran hebat di Desa Maria. Sehingga membuat pemangku kebijakan Desa Maria duduk bersama mendiskusikan masa depan Uma Lengge. Sehingga lahirlah satu lokasi khusus Uma Lengge yang saat ini dikenal sebagai Kompleks Uma Lengge.


Uma Jumpa Wawo


Di dalam Kompleks Uma Lengge, juga terdapat Uma Jompa yang berbentuk persegi yang juga berfungsi sebagai lumbung padi. Menatap Uma Jompa mengingatkan saya akan rumah kakek nenek yang sering saya kunjungi saat SD dulu.

Pembangunan Uma Lengge biasanya memakan waktu hampir setahun, bergantung dari kelancaran dana dan cuaca. Uma Lengge sendiri terbuat dari gabungan beberapa kayu diantaranya ada kayu jati, kayu dari pohon kelapa, bambu, dan atap yang ditutupi alang-alang.

Sebelum dilakukan pembangunan, biasanya dilakukan doa dan dzikir bersama yang dipimpin oleh ketua adat setempat dengan tujuan agar diberikan keselamatan oleh Yang Maha Pencipta dan bangunan uma lengge dapat bertahan lama.

Mungkin bagi beberapa orang, Uma Lengge hanya sekedar kompleks rumah dengan bentuk tradisional yang memiliki nilai sejarah. Berkunjung ke Uma Lengge bisa juga jadi tujuan membosankan untukmu karena hanya melihat jajaran rumah.

Ditambah lagi, tak ada gegap gempita, tak ada lampu kilauan yang kamu temukan saat memasuki kompleks uma lengge. Hanya hening. Ditambah ibu-ibu setempat yang menjemur padi di halaman uma lengge dalam diam.

Bisa jadi Uma Lengge hanya akan jadi tempat wisata yang esoknya sudah kamu lupa, atau tak akan bertahan lama di feed instagrammu karena jumlah like yang sedikit.

Tapi uma lengge akan selalu menemukan pengaggum rahasianya. Yang mengaggumi masyarakat Desa Maria dalam menjaga Uma Lengge. Mengaggumi konstruksi Uma Lengge yang sudah diciptakan oleh masyarakat Desa Maria bertahun-tahun lamanya dan masih bertahan hingga kini. Mengaggumi rasa saling membantu masyarakat sekitar dalam menjaga ketahanan pangan.

Tak perduli sepuluh, dua puluh menit, sejam atau berapa lama pun dirimu menghabiskan waktu di Uma Lengge. Uma Lengge akan tetap berdiri dalam kesederhanaannya dan mengajarkan nilai budaya pada generasi berikutnya.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Puncak Jatiwangi Felicia Latinka

Matahari sudah mulai tampak saat saya menyebrangi jalan menuju sebuah tanah lapang di puncak Jatiwangi. Bubur kacang hijau yang saya tenteng di kresek berwarna putih, pada akhirnya hanya mampu saya habiskan setengah gelasnya saja. 

Bersama teman seperjalanan, saya duduk di kursi kayu yang sebelumnya di duduki oleh dua sejoli yang datang bersama namun tidak banyak mengobrol. Masing-masingnya hanya sibuk memainkan layar ponsel.

Dari sebelah kanan lapangan, terlihat sekumpulan pemuda yang sedang menyeduh kopi. Air panas yang di didihkan di atas kayu bakar dengan asap yang menyatu dengan udara sekitar. Beberapa pemuda duduk bercanda dengan teman sebayanya sambil merokok.

Saya mengeratkan jaket saat udara terasa dingin. Mengeraskan volume lagu Ward Thomas yang sedang saya dengarkan.

Pandangan saya teralih ke kursi sebelah yang jaraknya kurang lebih  dua meter  dari kursi yang sedang saya duduki saat ini. Sekumpulan remaja, yang bila saya terka mungkin kumpulan anak SMA. 

Salah satunya berjaket merah dan berkacamata sedang berdiri memandangi matahari yang sudah mulai terbit, sambil memasukan kedua tangannya dalam saku jaket. Salah seorang teman si jaket merah, berjeans hitam, lihai memainkan senar gitar.

Puncak Jatiwangi

Sebenarnya nama Puncak Jatiwangi, adalah sebuah nama baru yang baru pernah saya dengar. Jika sebelumnya, tempat wisata yang terkenal menawarkan pemandangan kota dari atas bukit adalah Dana Taraha, salah satu kompleks kuburan Sultan Bima. Kini Puncak Jatiwangi juga menawarkan hal yang sama.

Wisata Puncak Jatiwangi
Jalanan di Puncak Jatiwangi

Jarak dari pusat kota menuju Puncak Jatiwangi bisa ditempuh dengan perjalanan kurang lebih 5 hingga 10 menit. Dengan akses jalan yang teramat baik. Hanya perlu hati-hati saja di jalanan menanjak dan beberapa tikungan.

Saat hari minggu, biasanya banyak warga atau anak muda yang menikmati puncak dengan berjalan kaki, lari, atau sekedar duduk bersama. Semakin pagi, jalanan akan semakin ramai. Terkadang kamu akan melihat kuda yang dituntun oleh seorang atau dua orang pemuda, ikut meramaikan suasana pagi Puncak Jatiwangi.

Pemandangan Dua Sisi

Jika dari sisi kanan jalan, kamu akan bertemu tanah lapang yang di antaranya terdapat kursi kapenta. Menjadi pilihan saya saat ini untuk menikmati matahari terbit.

Sebelum memasuki lapangan, kamu akan melihat stand Senja Kopi yang sepertinya hanya buka di sore hari. Seperti namanya, Senja Kopi.

Senja Kopi di Puncak Jatiwangi
Senja Kopi di sisi kanan jalan

Pemandangan yang ditawarkan dari sisi kanan adalah kamu bisa dengan jelas melihat garis besar daerah Jatiwangi dan sekitarnya. Lampu dari rumah penduduk yang masih menyala, jalan raya yang masih sepi pengendara, dan kabut tipis yang kamu lihat saat pagi hari.

puncak jatiwangi felicia latinka
Pemandangan dari sisi kanan Puncak Jatiwangi

Sementara dari sisi kiri, atau menyebranglah jalan dari Senja Kopi. Kamu akan melihat pemandangan Kota Bima dengan ciri khas Masjid Raya Berkubah Biru ditambah dengan pemandangan laut.

Jika dari sisi kanan, kamu hanya bisa melihat pemandangan bertemakan pegunungan dan rumah penduduk, maka dari sisi kiri kamu bisa melihat pemandangan kota dan laut yang mengelilinginya.

Puncak Jatiwangi felicia latinka
Pemandangan dari sisi kiri Puncak Jatiwangi

Sayangnya untuk sisi kiri, tidak ada kursi kapenta yang disediakan. Jadi hanya bisa berdiri di sisi jalan dan menikmati pemandangan kota.

Tapi kalau kamu malas berdiri, kamu bisa memiih untuk duduk di cafe puncak yang tersedia sambil mengobrol dengan teman seperjalananmu.

Oh ya, kalau kamu suka menikmati pemandangan kota di malam hari, puncak Jatiwangi juga menawarkan pemandangan yang tak kalah indahnya sehingga cocok kamu kunjungi bersama teman, sahabat, pasangan, atau dirimu sendiri.

Jika kamu tertarik dengan perjalanan tanpa arah dan wisata sejarah, kamu bisa mampir membaca artikel terbaru saya di sini.

Happy Weekend.

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

 

Pantai Sekoci Kolo Felicia Lantika


“Laut itu, Asmara, tak hanya terdiri dari ikan cantik dan kuda laut, tetapi juga pada masanya ada badai dan ombak besar yang hanya bisa dijinakkan oleh tembang merdu para nelayan."
― Leila S. Chudori, Laut Bercerita

Matahari sudah mulai meninggi, saat saya sedang berkeliling mengecek ruangan ganti. Di depan ruang ganti terdapat kotak dengan tulisan bayar 2.000.

Saya sedang berpikir untuk membayar atau tidak. Karena penjaganya pun tak ada. Air di ruang bilas pun tak jalan. Yang tentunya sudah diperkirakan, jika saya main air maka jangan harap bisa membilas badan.

Saya kembali duduk bersama kawan seperjalanan. Mereka masih menunggu makanan yang hingga kini belum datang. Ikan bakar + sayur + nasi + kelapa + aqua botol yang totalnya dibayar dengan uang 160.000.

Pantai sekoci namanya. Terletak di kolo, salah satu daerah yang terletak di kecamatan Asakota. Kolo terkenal dengan beragam wisata baharinya. Rasanya sangat mudah untuk menemukan tempat wisata. Tinggal pilih saja salah satu. 

Kalau tempat wisata yang sudah ada terlalu ramai buatmu, kamu bisa pilih daerah sepi di sepanjang jalan. Gelar tikar, duduk bersama kawan, lalu memerhatikan debur ombak. That’s it.  The real time of happines.

Waktu Tempuh dan Spot Favorit

Perjalanan ke Pantai Sekoci bisa ditempuh dengan perjalanan darat tentunya. Bisa dengan mobil atau motor dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam dari pusat Kota Bima.

Jalanannya cenderung berkelok dan mendaki. Tapi kondisi jalan sangat baik. Pastikan kondisi kendaraanmu dalam keadaan prima.

Di sepanjang perjalanan, kamu akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang apik. Matahari yang menyengat dan aroma tanaman liar akan menemani perjalananmu.

Di sepanjang jalan, saya punya dua spot favorit. Pertama, daerah dekat posko pemeriksaan covid Kolo yang nampaknya kini sudah tidak berjalan. Pemandangannya mirip seperti pulau yang ada di uang kertas seribuan.

Kedua, pemandangan di sekitar PLTU Bonto. Megahnya dinding biru PLTU dan birunya lautan Kolo menciptakan pemandangan seirama yang sangat pas diabadikan dalam bentuk gambar.

Tipe Pengunjung

Jika saya perhatikan, ada tiga tipe pengunjung berdasarkan waktu kedatangannya di Pantai Sekoci. Pertama, pengunjung yang datang pagi dan pulang saat jam dua belas siang. Kedua, pengunjung yang datang di siang hari dan pulang di sore hari. Ketiga, pengunjung yang datang tak terlalu pagi dan pulang tak terlalu sore.

Tempat Berteduh

Ada dua pilihan tempat berteduh yang bisa kamu pilih. Ada salaja atau dalam bahasa Indonesianya gubuk, lalu ada sarangge yang artinya serambi. Untuk sarangge terletak di bawah pohon yang cukup rindang jadi tak perlu khawatir kepanasan. 

Jika kamu tak ingin repot membawa bekal dari rumah, kamu bisa memesan langsung ke warung yang tersedia. Jika tak suka pilihan makanan yang ada, kamu bisa beralih ke mas-mas yang biasanya mampir untuk menjajakan salome. Salah satu olahan daging dari bima yang digemari hampir semua kalangan. Jika kamu bingung, salome itu mirip dengan somay yang ada di tanah jawa.

Cara Menikmati Pantai Sekoci

Oh ya, jika kamu makhluk yang suka main air tapi nggak bisa berenang. Yuk tos. Kita sama. Tapi bukan berarti laut tidak bisa dinikmati dengan cara yang berbeda bukan?

Biasanya saya cukup duduk di pinggir dan membiarkan laut datang menghempaskan gelombangnya. Oh ya, saya lupa bilang, Pantai Sekoci bukan tipe pantai yang pinggirannya berpasir, pinggirannya lebih banyak bebatuan. Jika kamu berangan-angan untuk membangun istana berpasir. Kamu salah tempat.

Dibanding itu, kamu bisa bermain susun batu atau seni menyeimbangkan batu atau rock balancing yang efeknya bisa nenangin pikiran. Atau siapa tahu pulang-pulang kamu bisa jadi seniman penyeimbang batu popular seperti Michael Grab. Ya kan? Siapa tahu.


Seni menyeimbangkan batu pantai kolo bima


Jika kamu suka foto-foto atau anak-anak instagram yang nyari spot foto kece badai, biar saya beri saran.

Berdirilah menghadap laut lalu berjalanlah ke arah kiri. Nah diujung sana kamu bakal ngeliat batu karang. Ada yang berbentuk datar mirip sekoci. Nah kamu bisa foto disitu, terserah dengan gaya apa. Ingat, hati-hati melangkah. Karangnya licin. Jangan sampai cuma karena foto nyawa menghilang.

Sekian dulu untuk perjalanan pantai sekocinya. Di lain waktu saya akan bercerita mengenai laut antah berantah. Diamanakah itu? Stay tune bersama Felicia Latinka.

Oh ya, jika kamu penasaran bagaimana awal mula perjalanan ini bisa dimulai, boleh baca artikel Awal Mula Perjalanan.


Share
Tweet
Pin
Share
7 comments

 


Saya tidak pernah benar-benar mengenal daerah kelahiran saya sendiri. Lahir dan besar di Bima membuat saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Saat teman SMA sibuk jalan kemana saja hingga kulitnya menghitam, saya tetap stay di rumah. Sepertinya satu-satunya yang membuat saya keluar rumah, hanya karena urusan sekolah.

Jangan kaget, jika kamu menanyakan nama tetangga samping rumah, saya akan menjawab tidak tahu.

Banyak menghabiskan waktu sendiri, membuat saya tidak mudah bergaul. Mungkin itu sebabnya orang tak banyak tahu soal saya dan saya pun tak banyak tahu tentang orang lain.

Tapi dengan bertambahnya umur, saya lebih memilih untuk konsen ke diri sendiri dibanding mengurusi orang lain. Tak semua hal harus dibagi bukan?

Oke, jadi karena travelling mulai banyak dilakukan oleh anak muda beberapa tahun belakangan.  Meski sebenarnya sudah terjadi jauh sebelumnya. Namun dengan makin mudahnya orang mendokumentasi dan membuat cerita, tentu membuat orang lain juga ikut tergerak, termasuk saya. 

Melihat keindahan alam yang banyak dibagikan di sosial media dan membaca cerita perjalanan para traveller membuat saya juga ingin merasakan. Saya juga ingin menjelajah. Saya juga ingin bergerak melihat wajah dunia yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Karena banyak menghabiskan waktu di rumah, saya tidak pernah benar-benar mengenal Bima. Saya tak pernah tahu apa saja nama jalan utamanya. Saya tak pernah tahu ada berapa banyak kabupaten di Bima. Ada banyak sekali nama daerah yang masih asing ditelinga saya hingga kini. Atau nama daerah yang hanya saya tahu namanya tapi tak pernah benar-benar tahu letaknya dimana.

Biar saya berikan contoh. Saya tahu sebuah wilayah bernama Dompu, tapi hingga kini saya belum pernah menjejakkan kaki di Dompu. Saya tahu ada daerah dalam kota yang bernama Kodo. Mengapa saya bisa tahu? Karena saat sekolah dulu saya punya teman yang tinggal di Kodo dan dia sering mengatakan itu daerah yang jauh.

Oh ya, ada satu hal lagi yang mempengaruhi saya. Sebuah iklan. Iklan yang tiba-tiba muncul di beranda facebook saya. Dalam iklan tersebut dijabarkan bahwa generasi sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam ruangan. Hampir sepanjang hidupnya selalu di dalam ruangan, padahal tanpa disadari ruangan tertutup juga banyak terdapat bakteri yang bisa mempengaruhi kesehatan. Intinya ayo keluar menikmati dunia luar.

Sayangnya, setelah mengutak ngatik youtube, saya tidak menemukan iklan tersebut. Namun ternyata ada sebuah iklan yang bisa dibilang temanya mirip dengan yang pernah saya tonton. Silahkan menonton disini. Siapa tahu ternyata itu juga mempengaruhimu.

Tapi sebenarnya faktor utamanya adalah uang. Uangnya baru ada sekarang. Dulu waktu masih sekolah saya kere sekali. Kalau terlalu banyak gaya, siap-siap saja akhir bulan bakal sengsara. Walau sebenarnya sekarang pun masih sama kerenya. Nggak kaya-kaya. Hahaha.

Selain itu, saya juga sepertinya baru menemukan teman perjalanan yang sesuai. Saya bukan tipe orang yang bisa jalan dengan siapa saja. Ibarat kata suka milih-milih. Udah milih-milih, nggak bisa motor lagi. Saya suka sekali membuat hidup saya sendiri susah. Hahaha.

Buat seorang Feli, perjalanan nggak hanya sekedar perjalanan yang harus ditempuh ribuan kilometer. Nggak selalu soal tujuan tapi juga soal jalanan dan berbagai hal yang bakal ditemui di sepanjang jalan. Bahkan perjalanan tanpa arah dan tujuan pun adalah sebuah perjalanan.

Perjalanan membuatmu menemukan diri sendiri dan teman yang benar-benar teman.

Sekian dulu untuk basa-basi yang tidak penting ini. Selamat membaca cerita perjalanan seorang anak introvert. Semoga bisa sedikit berguna, kalau tidak beguna, nggak apa-apa, yang penting masih hidup.

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

 


Hai. Saya Felicia Latinka. Bisa disapa dengan Feli. Lahir dan besar di kota kecil bernama Bima. Pernah merantau lalu akhirnya kembali pulang. Suka baca dan nonton drama korea. Kalau ada waktu luang suka jalan sendirian.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram

recent posts

Postingan Populer

  • Pantai Lariti : Laut Terbelah Versi Masa Kini
    Pantai Lariti : Laut Terbelah Versi Masa Kini
  • Maret : Bulan Refleksi Diri dan Susahnya Mencari Teman
    Maret : Bulan Refleksi Diri dan Susahnya Mencari Teman
  • Menikmati Air Terjun Oi Marai Di Kaki Gunung Tambora
    Menikmati Air Terjun Oi Marai Di Kaki Gunung Tambora
  • Pantai Sekoci Kolo dan Cara Sederhana Menikmatinya
    Pantai Sekoci Kolo dan Cara Sederhana Menikmatinya
  • Tentang Si Teman Cerita
    Tentang Si Teman Cerita
  • First Date Di Akhir September Yang Berakhir Gagal Dan Beberapa Alasannya
    First Date Di Akhir September Yang Berakhir Gagal Dan Beberapa Alasannya
  • Me Time Sederhana di Jalanan Sambinae
    Me Time Sederhana di Jalanan Sambinae
  • Menikmati Dua Sisi Bima dari Puncak Jatiwangi
    Menikmati Dua Sisi Bima dari Puncak Jatiwangi
  • Awal Mula Perjalanan
    Awal Mula Perjalanan
  • Saat Sendiri di Malam Minggu
    Saat Sendiri di Malam Minggu

Part of

Blogger Perempuan

Categories

  • About
  • BPN 30 Day Ramadan Blog Challenge 2022
  • Home
  • Random
  • Travelling

Blog Archive

  • April 2022 (1)
  • Oktober 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (2)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (1)
  • Februari 2021 (1)
  • Januari 2021 (1)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (4)
  • Oktober 2020 (1)
  • September 2020 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Created with by ThemeXpose