Menikmati Air Terjun Oi Marai Di Kaki Gunung Tambora

Matahari sudah teramat terik saat rombongan kami melintasi jalanan Tambora menuju air terjun Oi Marai Tambora.
Yup,
untuk perjalanan kali ini, saya tak berani untuk berpetualang berdua saja,
perjalanannya terlalu jauh, memakan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan
ditempuh dari pusat Kota bima.
Melewati
Sila, Dompu, Kempo, Sanggar, Piong dan nama-nama daerah lainnya yang sudah tak
mampu saya hafal.
Padang
Savana Yang Membentang Di Sepanjang Jalan Tambora
![]() |
Padang savana yang menghampar luas di sekitar jalanan Tambora |
Padang savana yang menurut beberapa sumber memiliki luas lebih dari 2.000 ha. Membentang luas disepanjang perjalanan.
Rasa-rasanya
seperti menonton kartun Oscar’s Oasis versi live tanpa pemeran utama.
Savana
sendiri merupakan daerah vegetasi padang rumput yang ditumbuhi pohon atau
sekelompok pohon dengan jarak yang terpencar-pencar.
Karena
luasnya padang savana, menjadikannya banyak digunakan sebagai padang gembalaan.
Sehingga akan banyak kita temui hewan ternak seperti kambing dan sapi yang di
ternak dengan sistem lepas liar.
Tak
jarang saat melintasi jalanan tambora, kambing dan sapi akan kita temui sedang
menyebrang atau berjalan berkelompok. Jadi harap berhati-hati ya saat memacu
kendaraan.
Meski
dilepas liar, ternak yang ada sudah diberi tanda oleh si pemilik sehingga tidak
akan tertukar dengan hewan ternak lainnya.
Hampir
80% kebutuhan sapi dan kerbau sumbawa di suplai dari daerah Tambora. Biasanya
para pembeli datang dari Kabupaten Bima, Dompu, atau pun dari luar pulau
Sumbawa membeli langsung hewan ternak yang ada di Tambora.
Letusan
Tambora Yang Akan Selalu Dikenang Dunia
![]() |
Gunung Tambora (Sumber : Facebook Balai Taman Nasional Tambora) |
Dari
sisi jalan lainnya, Gunung Tambora berdiri menjulang tinggi dengan gagahnya.
Tambora
yang awalnya memiliki ketinggian 4200 meter, sempat menjadikannya ada dijajaran
salah satu gunung tertinggi di Indonesia, sebelum akhirnya meletus pada bulan
April 1815 yang tingginya kini menjadi 2851 meter dari permukaan laut.
Tambora
kehilangan hampir separuh tinggi dan volumenya. Ledakan Tambora menyisakan lingkar
kaldera berdiameter 7-8 kilometer dengan kedalaman mencapai 1 kilometer.
Meski
Tambora terletak di Pulau Sumbawa, yang dimana Sumbawa sendiri hanya sebuah
pulau kecil dalam peta. Keberadaannya hampir tak banyak disebut.
Namun
siapa sangka, letusan Tambora justru masuk dalam jajaran letusan gunung berapi
paling berbahaya dan paling berpengaruh dalam sejarah dunia karena tidak hanya
berdampak pada masyarakat lokal namun juga masyarakat global.
Letusan
Tambora dikatakan lebih besar empat kali lipat dibanding letusan Krakatau pada
27 Agustus 1883.
Abu vulkanik dari letusan gunung Tambora menyebabkan Sumbawa, Lombok, Bali, Madura
dan sebagian Jawa Timur gelap gulita selama tiga hari. Sehingga membuat
masyarakat menyalakan lilin meski disiang hari atau sebenarnya pagi dan malam
hampir tak bisa dibedakan karena sama gelapnya.
Menurut
beberapa sumber, suara dentuman meletusnya gunung tambora diperkirakan juga
terdengar hingga Sumatera.
Saya
nggak bisa bayangin seberapa besarnya suara ledakan tambora, saat meletus,
dulunya.
Setelah
Tambora meletus, bencana selanjutnya menunggu.
Kelaparan
terjadi di seluruh wilayah Sumbawa. Banyak lahan yang gagal panen, sumber
pangan hilang dan hewan ternak pun banyak yang mati. Air tercemar karena
bercampur dengan abu vulkanik.
Kala
itu, suami rela menjual anak dan istrinya hanya untuk ditukarkan dengan
sejumlah pangan. Emas, perak, tembaga, keris, dan harta lainnya di jual
murah. Penduduk yang miskin hanya bisa
mengonsumsi dedaunan seperti sirih hingga keakar-akarnya. Namun banyak juga
yang meninggal, karena memakan daun ubi beracun.
Tidak
hanya di Sumbawa, beberapa wilayah di Nusantara pun ikut gagal panen
dikarenakan tidak adanya matahari karena tertutup oleh abu vulkanik.
Tak
cukup disitu, letusan Tambora juga menyebabkan anomali iklim dalam kurun waktu dua
atau tiga tahun setelahnya.
Hal
ini dikarenakan atmosfer bumi yang dipenuhi oleh sulphuric acid atau
asam sulfat yang dilontarkan oleh letusan Gunung Tambora. Asam sulfat menyerap
dan memantulkan kembali sinar matahari dan juga menyerap panas dari bumi.
Sehingga
terjadi pemanasan di atmosfer namun pendinginan di bawah atmosfer bumi yang menyebabkan
iklim global terganggu. Berbagai musim diberagam bagian bumi mengalami
penyimpangan dari biasanya.
Dan
pada akhirnya terjadi gagal panen di beberapa negara yang menyebabkan harga
bahan pokok meningkat tajam. Angka kejahatan meningkat karena terbatasnya
pangan.
Daya
beli masyarakat menurun. Banyak masyarakat kelas menengah yang jatuh miskin.
Letusan
Tambora memberikan dampak langsung berupa kerusakan lingkungan, kematian berbagai
mahluk hidup, kekeringan, kelaparan, dan munculnya bergam penyakit. Dan juga
memberikan dampak tidak langsung pada kondisi ekonomi, sosial, dan politik. Meskipun
lokasi yang berdampak jauh dari pusat letusan Tambora di Sumbawa, Indonesia.
Biodiversitas
Flora dan Fauna Di Taman Nasional Tambora
![]() |
Elang Flores yang ada di Gunung Tambora (Sumber : Facebook Balai Taman Nasional Tambora) |
Selama
perjalanan menuju Oi Marai Tambora, kita juga akan bertemu dengan Taman
Nasional Gunung Tambora yang menyimpan biodiversitas flora dan fauna yang
begitu beragam.
Pada
pertengahan April 2015 dilakukan ekspedisi di gunung tambora untuk mendata dan
membandingkan keanekaragamanan flora, fauna dan mikroba yang ada di gunung
tambora.
Bertotal
48 orang, yang dimana 16 di antaranya merupakan peneliti dari LIPI (Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang terdiri dari 7 orang bidang flora, 7 orang bidang fauna dan 2 orang bidang mikroba.
Ekspedisi juga melibatkan 19 orang warga desa dari Kawinda To’i, dimana warganya dikenal sebagai pencari madu di Hutan Tambora.
Dari
hasil ekspedisi tambora, didapatkan :
· 46
jenis spesies burung,
· 21
spesies reptile,
· 4
spesies amfibi dari berbagi marga,
· 10
spesies mamalia yang terdiri dari 3 spesies kelelawar, 3 spesies tikus, 1
spesies primata, 1 spesies musang dan beberapa mamalia lain seperti babi dan
rusa yang banyak ditemukan melintas di jalan.
· Sedangkan
kelompok kerabat kalajengking,kalacemeti dan laba-laba ditemukan sedikitnya
sepuluh spesies.
· Kelompok
serangga seperti kupu-kupu malam tercatat sedikitnya 230 spesies
· Kelompok
Tawon sedikitnya ditemukan 27 spesies dan dua spesies lebah madu yang sangat
potensial nilai ekonominya.
Selain
itu, juga terdapat burung migrant seperti Merops ornatus, Hirundo rustica, Apus
pasificus, dan Tringa hypoleucos.
Disamping
itu, terdapat sebanyak 6 jenis burung endemik Nusa Tenggara tercatat menghuni
kawasan Gunung Tambora seperti Caridonax fulgidus dan Otus silvicola.
Dan
masih banyak keragaman fauna yang versi lengkapnya dapat dibaca di jurnal
lengkap Ekpedisi Tambora.
Dari
keanekaragaman flora, ekspedisi tambora menemukan total sebanyak 393 spesimen. Hasil
identifikasi menunjukkan terdapat 207 jenis tumbuhan tingkat tinggi dan 56
jenis paku-pakuan, dan teridentifikasi 16 jenis lumut dan 9 jenis jamur.
Tentu
keberagaman flora dan fauna yang ada di gunung tambora sangat menarik untuk
dikunjungi baik bagi wisatan lokal maupun mancanegara.
Selain
dari hasil penelitian tersebut kita juga masih bisa menikmati beragam fauna dan
flora yang ada di akun sosial media Balai Taman Nasional Tambora yang banyak
menyajikan cerita dari gunung tambora.
Menikmati
Air Terjun Oi Marai Di Kaki Gunung Tambora
![]() |
Air Terjun Oi Marai di kaki gunung Tambora |
Sebagai
pecinta air terjun, tentu yang menjadi tujuan utama perjalanan saya kali ini
adalah Air tejun Oi Marai.
Jalur
perjalanan yang terasa seperti tidak berujung ini membuat saya teringat akan
lagu Taylor Swift yang berjudul Out of
The woods. Apakah kita sudah dekat? Apakah kita sudah sampai?
Tak terbayang
senangnya saya, Ketika akhirnya melihat gerbang masuk bertuliskan Selamat Datang di Wisata
Air Terjun Oi Marai.
Masih
ada jalanan berbatu dan berpasir yang harus di lewati sampai akhirnya sampai di
parkiran air terjun Oi Marai dengan membayar tiket 10.000/motor dan
20.000/mobil.
Belum,
perjalanannya belum selesai, rombongan masih perlu berjalan kaki kurang lebih 5
menit untuk sampai ke stan pembelian karcis masuk air terjun Oi Marai yang
dibayar 7.500/orang.
Dari
sini rombongan diperingatkan untuk selalu menjaga kebersihan tempat wisata
dengan tidak membuang sampah di sepanjang perjalanan menuju air terjun Oi
Marai.
Bekal
makanan yang dibawa dipersilahkan untuk dinikmati di baruga yang telah
disediakan. Pengelola tidak memperbolehkan pegunjung membawa makanan ke lokasi air terjun.
Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga kebersihan air terjun Oi Marai serta menjaga dan melindungi hutan yang ada di sepanjang Air Terjun Oi Marai. Tempat sampah telah disediakan di dekat stan pembelian karcis, sehingga pengunjung tidak membuang sampah sembarangan.
Mari memulai langkah kecil dengan tidak membuang sampah sembarangan di tempat wisata agar kebersihan dan kealamiannya tetap terjaga.
Setelah dari tempat pembelian karcis, kita masih perlu berjalan kaki kurang lebih 15 menit. Jadi kuat-kuatin kaki ya.
Tenang,
medan jalan sudah sangat tertata rapi, pembatas jalan yang terbuat dari kayu
tampak kokoh disepanjang jalan menuju air terjun.
Tangga
yang perlu didaki pun dalam kondisi yang sangat baik di tengah rimbunnya pepohonan.
Beberapa
pengunjung terlihat sedang berfoto bersama saat rombongan kami tiba.
Perjalanan
yang melelahkan seperti terbayar tuntas menyaksikan derasnya debit air terjun
Oi Marai yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 15 meter.
![]() |
Rombongan yang sedang menikmati aliran air Air Terjun Oi Marai Tambora |
Ketinggian air yang hanya sampai selutut orang dewasa membuat siapa pun bisa menikmatinya. Tapi tentu tetap dalam pengawasan orang dewasa untuk anak-anak.
Anggota rombongan sudah berganti baju dan bersiap menceburkan diri menyatu bersama aliran
air terjun tambora.
Semua tampak
gembira. Beberapa pengunjung fokus mencari spot foto yang bagus, meloncati
beberapa batu dan menetapkan sudut foto mana yang paling baik.
Beberapa
lagi duduk di aliran air yang lebih pendek, menikmati sensasi pijatan air yang
mengalir.
Saya
duduk mengamati tersenyum bahagia menikmati semuanya. Menikmati betapa kayanya alam
Indonesia yang salah satunya terletak di kaki gunung tambora ini.
Tetap jaga kesehatan dimana pun kalian berada, semoga corona bisa cepat berlalu. Sehingga kita semua bisa kembali bebas mengunjungi tempat yang kita ingini tanpa perlu khawatir adanya pembatasan di beberapa daerah.
Wibisono,
Sonny C. 2017. Bencana dan Peradaban
Tambora 1815. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Badan
Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Hidayatullah, M. 2016. Potensi Savana Di Kawasan Gunung Tambora Pulau Sumbawa-Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kupang : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang
biologi.lipi.go.id. 2017. Ekspedisi Tambora. Diakses pada 16 Agustus 2021 dari http://www.biologi.lipi.go.id/zoologi/index.php/article-categories/157-ekspedisi-tambora.
Santika, Yessi dan Arief Hidayat. 2017. Keanekaragaman tumbuhan tinggi dan paku-pakuan di Gunung Tambora,
Sumbawa, Nusa Tenggara Barat: 200 Tahun Setelah Letusan dan Potensinya. Jakarta-Bogor : Herbarium
Bogoriense, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI).
1 comments
Pemandangannya luar biasa ya ada Savana yang luas banget
BalasHapus