• Home
  • About
  • Travelling
  • Review
  • Random
  • Contact
facebook twitter instagram pinterest Email

Felicia Latinka

Pantai Lariti Sape


Pantai Lariti terletak di Desa Soro, Kecamatan Lambu Sape. Dapat ditempuh dengan lama perjalanan kurang lebih 3 jam dari pusat kota Bima. Dengan medan jalan yang meliuk-meliuk seperti ular. Abis ketemu liuk, liuk lagi. Jadi pastikan yang membawa kendaraan adalah yang expert . Gue pribadi ampe pusing liat jalanannya. Tapi untuk kondisi jalan, tenang saja, mulus kok.

Pantai Lariti merupakan salah satu top list  wisata akhir pekan, baik bagi warga kota maupun kabupaten Bima.

Gue rasa, siapa pun yang berkunjung ke Lariti, yang paling di incar adalah terbelahnya laut Lariti dan terbentuknya  jalan yang menghubungkan Lariti dengan pulau kecil di seberangnya.

Kalau kamu pernah dengar kisah terbelahnya lautan di kisah Nabi Musa a.s, nah Pantai Lariti ini versi masa kininya. Cuma nggak perlu pake mukulin tongkat ke tanah dan nggak ada tentara Firaun yang ngejar-ngejar. Yang kamu perluin, cukup punya kesabaran tingkat tinggi buat nungguin alam membuka dirinya kepadamu. Simplenya, sabar nungguin lautannya surut.

Nah, jam-jam berapa sajakah itu? Dari hasil nanya-nanya, ada yang bilang datanglah di pagi hari, maskimal jam 7 pagi atau datanglah di jam 5 atau 6 sore. Tapi beberapa teman yang sudah berkunjung katanya sih jam 3-an sudah surut. Sementara sewaktu gue berkunjung, jam 3 sore lariti masih belum surut. Jadi tergantung keberuntungan masing-masing. Dan jangan lupakan gaya gravitasi bulan.

Sebagai seorang newbie dalam hal mengenal Lariti dan sedang tidak beruntung. Jadilah laut terbelahnya tidak gue saksikan.

Tapi apakah gue kecewa? Tentu saja tidak. Banyak hal yang masih bisa dinikmati dari Lariti. Contohnya banyak spot intragramable yang kalau di foto bisa nambah like.


Pantai Lariti Sape

Buat gue pribadi, Lariti sangat ramah buat manusia yang suka main air tapi nggak bisa berenang seperti gue ini. Kenapa? Karena walaupun lairitinya belum terbelah, jalan di bawah lautnya bakal bisa dijadikan pijakan buat menyebrang ke pulau sebelahnya.

Jadi sebenarnya, tanpa nungguin laritinya surut pun kita sudah bisa nyebrang.

Kalau mau lebih aman main airnya, bisa sewa ban, cukup dengan harga 10.000 rupiah.

Ngambang di tengah laut sambil nikmatin langit biru, ngupingin bapak-bapak yang lagi ngasih wejangan ke anaknya, atau ngeliatin pasangan yang lagi kasmaran. Ah, betapa nikmatnya liburan kali ini.

Oh ya, Lariti sendiri termasuk pantai yang berpasir halus, jadi nggak usah takut kaki bakal tertusuk karang ketika main air.


Nah, dari segi fasilitas, Lariti termasuk tempat wisata yang punya fasilitas yang cukup baik. Ada WC, ruang ganti, tempat makan, warung, gazebo, dan mushola.

Cuma ya gitu, kalau di tempat wisata jarang nemuin ruang ganti yang airnya cukup buat bilas dan WC yang cukup bersih. Jadi tidak usah berekspektasi terlalu tinggi.

Gazebo yang ada di lariti, berjumlah cukup banyak. Berderet dari ujung ke ujung.


Kalau lagi nggak mau di gazebo, bisa duduk di kursi yang ada di pinggir pantai. Tapi kalau lagi kehabisan tempat, tinggal gelar tikar aja. Heheh.

Warung yang sediain makanan juga banyak, mau ikan bakar juga ada, mau indomie ada, mau kopi panas ada. Tapi makanan yang selalu jadi pilihan gue pribadi kalau ke tempat wisata, kalau nggak indomie, ya pop mie.

Biasanya pengunjung yang datang ke Lariti, membawa serta keluarga besar yang jumlahnya rata-rata lebih dari lima orang. Jadi biasanya kalau lagi musim libur bakal rame banget.

Dan kalau kamu datangnya cuma berdua aja, seperti diriku ini. Jangan ngerasa kesepian di tengah keramaian ya. Heheh.

Yang penting teman jalanmu nyambung dengan dirimu dan kamu nyaman dengannya. Gue rasa itu saja sudah cukup.


Oh ya, kalau kamu bosan nungguin Lariti terbelah, biar gue kasih saran.

Kalau kamu perhatiin, biasa bakal ada kapal yang ngangkutin pengunjung ke pulau-pulau sekitar lariti. Kamu bisa ikut menjelajah, dengan cukup sewa 20.000 per orang, itu sudah termasuk ongkos pulang pergi, jadi menurut gue murah.

Izinkan gue berkisah sedikit, sebenarnya awalnya ngikut-ngikut aja. Lihat perahu berhenti dan liat ada rombongan naik, ikutan naik. Tanpa tahu sebenarnya tujuannya ke mana. Tanpa ekspektasi apa pun. Pokoknya chill aja lah.

Dan ternyata, tujuannya adalah Pulau Bidadari, yang menurut gue lebih privat dan orang yang kesini lebih sedikit.

Gue bakal bilang, gue lebih jatuh cinta sama Pulau Bidadari di banding Lariti.


Walau pulaunya nggak terlalu luas dan cenderung kecil, tapi pasirnya lebih putih dan airnya lebih jernih. Mirip foto pantai yang banyak beredar di google dan akhirnya bisa gue temukan nyatanya. Ya seperti pulau bidadari ini.

Back to lariti. Sejujurnya dalam pikiran, gue memetakan jalan ke lariti seperti dora lagi bacain petanya. Apakah kamu melihat bukit?

Gue meringkasnya menjadi lewati perkampungan – lewati bukit – ketemu hutan mangrove – pantai lariti.

Oh ya, sebelum ke lariti, coba nyempatin foto di 0 km Sape. Yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan. Gue pribadi, baru tahu kalau sape punya 0 km.


Tugu 0 km ini biasa jadi persinggahan komunitas touring. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jejak stiker yang di tempelkan di papan samping kiri kanan tugu.

Waktu itu sih pengen ikut ninggalin jejak tapi lupa bawa alat tulis. Jadi ya udah, cukup foto-foto saja.

Akhir kata, selamat berakhir pekan. Buat yang udah balik kerja sementara yang lain masih liburan. Tetap semangat ^^.

                                        

.

Share
Tweet
Pin
Share
4 comments

Bulan April

Hai april, selamat datang. Wah udah bulan 4 aja, Blog ini juga sudah lama nggak gue isi. Mungkin karena kerjaan lagi banyak-banyaknya. Hampir tiap hari pulang malam karena ada sistem baru.

Jadi tiap kali pulang bawaannya cuma pengen cuci muka, nge-youtube, lalu tidur. Sungguh unfaedah sekali hidupku.

Kalian gimana Maretnya? Apakah berlalu dengan sangat baik, baik, cukup baik, biasa aja, atau buruk? Ini kayak pilihan jawaban kuesioner nggak sih?

Malas Baca Buku dan Lebih Memilih Drakor

Maret buat gue pribadi adalah bulan refleksi diri. Yang kalau gue bercermin, gue baru nyadar jerawat gue makin banyak. Apa hubungannya, coba?

Gue lagi mengingat-ngingat apakah bulan maret gue ada nyentuh buku? Sepertinya ada, cuma sepertinya di awal-awal bulan aja, selanjutnya full nonton drakor. Sepertinya gue lagi bosan ama buku, gue lupa apa sebutannya, tapi begitulah.

Gue rasa ini karena sehabis pulang kerja tentunya fisik dan pikiran udah cape. Sementara buku yang belum gue baca masuk dalam kategori buku pengembangan diri, yang tentunya kalau baca harus dengan kosentrasi penuh.

Nah, karena itulah gue lebih memilih untuk nonton drakor yang bertema ringan. Jadi kalau gue nonton nggak perlu mikir. Nah drakor yang jadi pilihan gue adalah Hello? It’s Me!

Jadi, drama Hello? It’s Me seperti angin segar di antara semua drama korea bertema thiller yang lagi pada on going.

Sumber foto dari KBS

Drama ini berkisah mengenai Ban Ha-Ni.  Wanita single berusia 37 tahun dengan karir dan hidup yang bisa dibilang tidak berhasil. Padahal semasa SMA Ban Ha-Ni adalah seorang gadis yang ceria dan mempunyai banyak penggemar di  sekolahnya. Lalu secara misterius, Ban Ha-Ni yang berumur 17 tahun, muncul di kehidupan Ban Ha-Ni yang yang berusia 37 tahun. Intinya Ban Ha-Ni tua ketemu Ban Ha-Ni muda. 

Selain drama Hello ? It’s Me, gue juga sangat bersyukur bahwa Running Man masih tayang sampai sekarang. Karena reality Tv show yang sudah mengudara sejak 2010 ini selalu berhasil menghadirkan gelak tawa. Dari para membernya yang super kocak dan guest  yang kadang tingkahnya nggak masuk akal.

Gue pribadi suka banget sama Kwang-soo dan Yoo Jae-suk. Kwang-soo dikenal suka mengkhianati anggota kelompoknya sendiri, kalau Yoo Jae-suk terkenal pintar. Kalau lagi perlombaan kuis, Yoo Jae-suk juaranya. Tapi Yoo Jae-suk dan Kwang –soo punya satu kesamaan, yaitu sama-sama sial. Yang kadang sialnya tuh bikin kita bertanya-tanya sendiri, kok bisa?

Biar gue kasih contoh. Di Running Man episode 143, ada sesi perlombaan mecahin telur di jidat. Jadi dari 30 telur yang ada, hanya ada satu telur mentah, yang lainnya adalah telur masak. Nah, waktu giliran Kwang-soo, bisa-bisanya dia malah dapat telur mentah, yang disambut gelak tawa dari member dan guest saat itu. 

Semakin Tua Semakin Sedikit Teman

Sebenarnya ini agak rancu sih. Karena bagi beberapa orang  semakin tua semakin banyak teman. Kenapa bisa gitu? Karena dari kita SD, SMP, SMA, kuliah, lalu bekerja, kita bakal selalu ketemu lingkungan baru, yang dimana kita juga pasti bakal ketemu orang-orang baru. Dari orang-orang baru itu yang kadang jadi rajin komunikasi dan akhirnya jadi teman deh.

Foto oleh Matheus Bertelli dari Pexels


Tapi kok buat gue enggak yah? Gue rasa, makin tua, gue makin susah nyari teman. Pertama, karena gue orangnya pendiam dan nggak gampang ngebuka diri. Terus muka gue yang pernah dikatai ‘seseorang’ telalu judes, jadi orang mau kenal juga mikir-mikir. Dan gue juga jarang memulai obrolan dengan orang yang nggak gue kenal.

Namun, sebenarnya gue juga mau bilang, kalau gue orangnya pemilih kalau soal teman.  Mungkin karena gue lebih mentingin kualitas dibandingin kuantitas.

Menurut gue, nggak perlu punya banyak teman, yang terpenting punya satu teman yang selalu ada di saat kita susah maupun senang. Tapi, ini juga kadang jadi bumerang  buat diri sendiri. Soalnya kalau lagi butuh bantuan, nggak tahu mau minta bantuan ke siapa. Trus kemana-mana nggak punya koneksi, nggak tahu siapa yang mau diandalin.

Lalu gue juga menghindari pertemanan yang di dalamnya terlalu banyak membicarakan keburukan orang plus terlalu menilai kehidupan orang lain. Jadi tiap kali ngumpul, ngebicarain orang aja terus.  Gue pasti bakal cape banget, ditambah gue yang kurang suka ngurusin hidup orang, yang tentunya, gabung dikelompok seperti itu bakal bikin gue sendiri nggak nyaman.

Rahasia juga jadi hal yang paling krusial buat gue. Karena jangan sampai apa yang kita ceritakan malah diceritakan kembali ke orang lain. Apalagi kalau ceritanya pas lagi ngerasa  down. Ya mungkin bagus kalau ceritanya malah bisa bikin orang lain makin bisa ngertiin kita. Kalau ceritanya malah di ceritain sebagai bahan tertawaan? Ya, yang udah down malah jadi semakin hilang harapan.

Buat gue, orang-orang yang bisa awet pertemanannya hingga tua, adalah orang-orang yang sangat beruntung.

Robert Waldinger, dalam sesi TEDx talknya berkata, 

“Good relationships keep us happier and healthier”

Atau bisa dibilang, hubungan yang baik membuat kita semakin bahagia dan sehat. Baik hubungan sosial  dengan teman, keluarga, ataupun dengan komunitas.

Belajar Bahasa Inggris yang Selalu Tertunda

Sejujurnya, gue orang yang pengen banget bisa jalan-jalan ke luar negri. Kayaknya bukan gue aja deh, semua orang juga pasti mau. Entah gimana caranya, yang penting mimpi aja dulu. Tercapai atau nggaknya, itu soal belakangan.

Dan salah satu bekalnya adalah belajar bahasa Inggris. Cuma, jangan mikir belajarnya di les-les gitu. Nggak sama sekali. Gue lebih banyak otodidak. Belajar lewat video-video di youtube.

Sewaktu sekolah, bahasa Inggris selalu jadi momok buat gue pribadi. Di saat teman-teman lain nggak ngalamin kesulitan buat ngikutin pelajaran, gue malah sibuk menghitung waktu, berapa lama lagi pelajaran bahasa inggris bakal selesai.

Gue baru nemu feel-nya kayaknya dekat-dekat mau lulus kuliah. Lama banget yah? haha. Emang selama itu sih gue baru bisa sedikit demi sedikit mengerti. Sedikit demi sedikit juga mulai PD buat nonton film pake subtitle bahasa Inggris. Tapi ya gitu, kurangnya masih banyak.

Pernah liat nggak meme yang bilang kalau waktu nonton pake subtitle inggris berasa sarjana. Bisa dimengerti, pokoknya jago dah. Tapi giliran disuruh speaking langsung berubah jadi bayi. Cuma bisa yes no yes no.

Sumber gambar dari channel youtube EnglishAnyone


Nah, jadilah gue niatin ke diri sendiri, latihan ngebaca artikel bahasa inggris tiap hari, kan kalau mau bisa ngomong ya harus belajar ngomong.

Tapi sayang seribu sayang, gue ini bukan orang yang konsisten. Gue cuma belajar bacanya tiga harian habis itu nggak pernah lagi.

Bulan april ini gue bilang ke diri sendiri, “Fel, nggak apa-apa, namanya juga belajar, yuk coba lagi”.

Pernah dengar nggak? bahwa orang yang belum siap untuk berubah, pastinya nggak bakal berubah.

Jadi, akan bagimanakah hasilnya? Kita tunggu saja.

 


Share
Tweet
Pin
Share
4 comments

Apa gue bisa ya? bahkan untuk punya sebuah surat tanah, gue masih nggak mampu. Apa lagi buat punya rumah.

Definisi sukses menurut bapak adalah anak yang punya rumah tiga tingkat, dengan satu lantai jadi miliknya.

Gue sedang dalam masa menyemangati diri sendiri. Gamang dengan pilihan hidup yang telah gue buat. Rasanya tak pernah menjadikan gue siapa-siapa. Bahkan tulisan ini pun, yang gue yakin pun tak akan jadi apa-apa. Hanya tertimbun bersama file word lainnya.

Cerita lelah yang kita sampaikan dan malah jadi bahan tertawaan buat bapak dan malah di ceritakan ke orang lain sebagai candaan. Menurut gue itu menyakitkan.

Untuk bercerita di seorang manusia bernama bapak saja itu butuh keberanian besar, mengalahkan ego diri sendiri, keberanian untuk jujur ke orang tua soal perasaanmu yang sebenarnya. Itu benar-benar butuh keberanian.

Karena pada akhirnya, anak adalah seorang manusia yang juga punya suara hati, yang juga punya pandangan, menyebalkan, menyedihkan, dan kesepian.

Gaji gue pas-pasan. Bahkan laptop yang ingin sekali gue beli, hingga kini belum mampu gue beli. Masih sedikit demi sedikit menabung. Apalagi untuk punya rumah tiga tingkat.

180 kata di atas, mungkin hanya terasa seperti omong kosong. Itu mah karena kamu kurang usaha? Itu karena kamu pemalas.

Mengapa kita selalu mengecilkan usaha orang? Tapi gue tahu sih, semuanya bakal tetap akan terlihat sebagai omong kosong selama itu belum menampakkan hasil. Selama itu belum jadi uang, itu semua akan tetap semu dan nggak berarti.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 

Deretan Uma Lengge


Saya menoleh ke belakang, saat seorang rekan kerja tiba-tiba menepuk pundak dan bertanya,

“kemarin ke wawo ya?”

Saya dengan tatapan bingung dan menyelidik, menatapnya heran, bagimana dia bisa tahu?

“Pakai motor supra kan? Kemarin aku liat kamu boncengan ama temanmu”

“Wah, berarti Feli harus lebih hati-hati lagi nih” jawab saya dengan nada bercanda yang disambut tawa olehnya.

Rayon namanya, salah satu rekan kerja yang setahu saya juga suka travelling. Hanya saja dia punya grup travelling sendiri, begitu pula saya. Jika grup travellingnya berjumlah lebih dari lima orang, grup saya hanya berjumlah dua orang. Saya dan rekan saya bernama Yuda yang juga rekan satu kerja. Karena alasan privasi, saya dan Yuda lebih memilih untuk merahasiakan perjalanan.

Di sela istirahat kantor, pikiran saya melayang kembali ke perjalanan Wawo yang sebenarnya dibuka dengan keisengan saya mengganggu hari minggu pagi Yuda.

***

Persawahan sambinae
Pemandangan yang mirip dengan gambar gunung dan sawah yang sering kita gambar saat SD dulu


Saya menepi di jalanan Sambinae setelah sebuah ide iseng muncul. Telpon saya akhirnya diangkat setelah ketiga kalinya saya menelpon. Wajar saja, ini hari minggu, waktunya untuk tidur hingga siang setelah satu minggu bekerja.

“Halo” Terdengar suara parau dari seberang.

“Halo Yud, sorry ganggu. Feli lagi jalan nggak tentu arah dan emang nggak tahu mau kemana. Haha” Jawab saya.

“Emang lagi dimana?” Jawabnya masih dengan suara parau.

“Ini lagi di Sambinae, merhatiin sawah.”

“Sambinae? Dekat rumah aku Fel, ke depan rumah aja, yang dekat warung bakso. Tahukan?”

“Oh iya, aku tahu.”

Tak sampai sepuluh menit, saya memarkir motor di depan warung bakso dan mengirim pesan singkat pada Yuda.

Yuda muncul dengan kaos navy lengan panjang, celana jeans abu-abu dan sandal gunung khasnya. Setelah mengobrol beberapa lama, tujuan perjalanan akhirnya ditentukan, yaitu Wawo. Sebuah daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Dengan alasan keselamatan, mengingat saya yang tidak terlalu jago bawa motor, Yuda memilih memarkirkan motor saya di garasi rumahnya dan kami berangkat menggunakan motor supranya.

Hijaunya Jalanan Wawo

Saya sibuk mengamati jalanan sembari mendengarkan lagu dari album terbaru taylor swift, evermore, yang beberapa waktu lalu baru dirilis dan masuk dalam daftar plalylist lagu yang saya dengar berulang kali.

Yuda sesekali bercerita mengenai beberapa daerah yang sudah pernah dikunjunginya disepanjang perjalanan. Tentang daerah di atas gunung yang sempat menjadi tempat suting Bolang.

 

Jalan Wawo


Sejujurnya, saya pikir, bima hanya terdiri dari daerah panas, salah satu first impression yang sering dikatakan oleh orang yang baru pertama kali mengunjungi bima, nyatanya bima juga punya daerah dingin seperti Wawo. Saya harus akui, saya jatuh cinta dengan jalanan wawo. Hijau, mulusnya jalanan, dan pemandangan yang ditawarkan membuat saya jatuh cinta untuk perjalanan kali ini.

Beberapa spot jalan ada yang di sulap sedemikian rupa hingga menjadi spot instragamable. Beberapa ada yang membutuhkan karcis masuk, beberapa ada yang gratis.

Kamu akan menemukan sekumpulan monyet disepanjang jalanan wawo yang menunggu dengan sabar jika ada beberapa pengendara yang bersedia melempar buah, snack, susu, atau makanan lainnya. Hanya saja tak jarang monyet yang ada ikut berlari mengejar pengendara sehingga tampak seperti akan di gigit, sehingga jika tak cukup hati-hati kendaraan malah akan menabrak si monyet dan akan berujung pada kecelakaan. Jadi tetaplah waspada.

Saya menepuk pundak yuda dan mengatakan bahwa saya lapar. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, yang saya tahu kami sama-sama belum sarapan. Yuda berhenti di sebuah warung yang menjual lalapan dan bakso yang di jaga seorang gadis dan seorang pria yang nampak seperti sedang berlatih menyanyi sambil memetik senar gitar.

 “Jadi mau kemana? Sape?” Yuda memecah keheningan setelah semangkuk bakso disantapnya tak kurang dari sepuluh menit.

Saya yang sedang menyantap bakso terdiam. Memang sedari awal ini memang perjalanan tanpa arah, bahkan tujuan akhirnya pun sampai sekarang masih belum betul-betul ditentukan. Yang hanya ditentukan adalah kami akan ke Wawo.

Sadar akan kebingungan saya , yuda memberi pencerahan “Nggak mau ke kolam renang? Dari sini lumayan dekat”.

“Sepertinya enggak, aku nggak bawa baju ganti”.

“Gimana kalau Uma Lengge? Cuma perlu balik arah dan belok kanan di gang yang udah kita lewatin”.

“Uma Lengge?” Nama yang sudah pernah saya dengar sedari SMP dan sering jadi tujuan wisata sejarah selain Asi Mbojo. Namun sayangnya sebagai anak rumahan, uma lengge masuk dalam daftar yang belum pernah saya kunjungi.

“Boleh deh”. Jawab saya mengiyakan.

Situs Wisata Uma Lengge

Tak sampai lima menit, kami tiba tepat di depan gerbang Uma Lengge. Setelah mengisi buku tamu dan menyumbang seadanya. Saya mengedarkan pandangan ke kompleks Uma lengge yang menyimpan banyak sejarah.


Gerbang Uma Lengge


Uma Lengge yang saya kunjungi terletak di Desa Maria, kabupaten Wawo. Dimana pada tahun 2011, Kompleks Uma Lengge telah dinobatkan sebagai desa budaya oleh pemerintah Kabupaten Bima.

Uma Lengge merupakan rumah tradisional dari suku Mbojo yang diperkirakan sudah ada sejak tahun  ke-12 Masehi sampai dengan tahun 1960 yang dahulunya difungsikan sebagai tempat tinggal dan lumbung padi. Namun kini hanya berfungsi sebagai lumbung padi.

Hampir 75% masyarakat Desa Maria berprofesi sebagai petani, sehingga keberadaan lumbung padi sangat penting bagi ketahanan pangan.

Uma Lengge berasal dari bahasa Bima, dimana Uma berarti rumah dan lengge berarti mengerucut. Jadi secara bahasa, Uma Lengge berarti rumah yang (atapnya) mengerucut.

Uma Lengge memiliki tiga bagian utama. Pondasi yang merupakan dasar dari uma lengge yang dimana dibuat agak tinggi untuk meghindari binatang buas. Lantai satu yang biasa digunakan sebagai tempat bercengkrama dan bermusyawarah. Lantai kedua sekaligus atap yang digunakan sebagai lumbung padi.

Jika kita mundur ke masa lalu, pada tahun 1957, terjadi kebakaran hebat di Desa Maria. Sehingga membuat pemangku kebijakan Desa Maria duduk bersama mendiskusikan masa depan Uma Lengge. Sehingga lahirlah satu lokasi khusus Uma Lengge yang saat ini dikenal sebagai Kompleks Uma Lengge.


Uma Jumpa Wawo


Di dalam Kompleks Uma Lengge, juga terdapat Uma Jompa yang berbentuk persegi yang juga berfungsi sebagai lumbung padi. Menatap Uma Jompa mengingatkan saya akan rumah kakek nenek yang sering saya kunjungi saat SD dulu.

Pembangunan Uma Lengge biasanya memakan waktu hampir setahun, bergantung dari kelancaran dana dan cuaca. Uma Lengge sendiri terbuat dari gabungan beberapa kayu diantaranya ada kayu jati, kayu dari pohon kelapa, bambu, dan atap yang ditutupi alang-alang.

Sebelum dilakukan pembangunan, biasanya dilakukan doa dan dzikir bersama yang dipimpin oleh ketua adat setempat dengan tujuan agar diberikan keselamatan oleh Yang Maha Pencipta dan bangunan uma lengge dapat bertahan lama.

Mungkin bagi beberapa orang, Uma Lengge hanya sekedar kompleks rumah dengan bentuk tradisional yang memiliki nilai sejarah. Berkunjung ke Uma Lengge bisa juga jadi tujuan membosankan untukmu karena hanya melihat jajaran rumah.

Ditambah lagi, tak ada gegap gempita, tak ada lampu kilauan yang kamu temukan saat memasuki kompleks uma lengge. Hanya hening. Ditambah ibu-ibu setempat yang menjemur padi di halaman uma lengge dalam diam.

Bisa jadi Uma Lengge hanya akan jadi tempat wisata yang esoknya sudah kamu lupa, atau tak akan bertahan lama di feed instagrammu karena jumlah like yang sedikit.

Tapi uma lengge akan selalu menemukan pengaggum rahasianya. Yang mengaggumi masyarakat Desa Maria dalam menjaga Uma Lengge. Mengaggumi konstruksi Uma Lengge yang sudah diciptakan oleh masyarakat Desa Maria bertahun-tahun lamanya dan masih bertahan hingga kini. Mengaggumi rasa saling membantu masyarakat sekitar dalam menjaga ketahanan pangan.

Tak perduli sepuluh, dua puluh menit, sejam atau berapa lama pun dirimu menghabiskan waktu di Uma Lengge. Uma Lengge akan tetap berdiri dalam kesederhanaannya dan mengajarkan nilai budaya pada generasi berikutnya.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Saya sebenarnya ingin menulis artikel soal patah hati yang rencananya akan saya posting di kompasiana. Hanya saja, saya masih bingung akan saya khususkan kemana tema patah hatinya. Lalu jadilah saya kembali menatap kertas kosong. Menulis artikel baru ini.

Siapa disini yang orang tuanya rada-rada emosian atau emang emosian? Please raise your hand.

Kalau orang tua lagi mau marah, kadang kita pasti tahu. Aura-aura sekitarnya tuh berasa berubah. Kadang kalau udah tahu mau dimarahin, pilihannya ada dua. Pertama, menghindar. Kedua, mau ngehindar tapi udah kedapatan duluan ama ortu jadi nggak bisa kabur.

Biasa sebelum orang tua marah, pasti ada tanda-tanda awalnya. Persis seperti kalau mau ujan pasti mendung dulu.

Nah, berikut tanda-tanda yang biasa muncul sebelum orang tua marah, jadi persiapkan mental untuk menghadapinya.

Orang Tua Sama Sekali Tidak Menyapa

Pernah nggak pas kamu pulang, tiba-tiba udara di rumah berasa dingin. Dari yang awalnya pada ketawa-ketawa, eh pas kamu masuk, semuanya langsung pada diam. Berasa bakal segera ada badai yang terjadi.

Kalau kamu beruntung, kamu bisa ganti baju dulu, atau bahkan makan dulu. Kalau nggak beruntung, biasanya sih langsung disidang.

Saudaramu Tiba-tiba Menghilang

Ini nih, model saudara yang sukanya cari aman. Tapi ini cuma berlaku buat kamu yang punya saudara. Kalau nggak punya? silahkan menikmati predikat “anak tunggal”.

Hilangnya saudaramu itu bisa diartikan, pertama “saya nggak punya urusan dengan masalahmu jadi silahkan hadapi sendiri”. 

Kedua “wah akhirnya datang juga waktu untuk kamu merasakan amukan orang tua”. Ini berlaku kalau kamu selama ini cenderung dikenal sebagai anak yang nggak pernah bikin masalah.

Ketiga, “wah nanti kalau kondisinya mulai berbahaya, saya akan datang menyelamatkanmu”. Ya bisa aja saudaramu memantau dari jauh supaya nanti kalau ada apa-apa dia bisa segera mencegah hal yang nggak diinginkan terjadi.

Ibu, Saudaramu atau Siapa Pun itu Berkata “KAMU DIPANGGIL BAPAK”

Sebagai keluarga yang jarang banget bisa ngobrol panjang ama bapak, karena bapak dikenal sebagai makhluk yang hemat kata atau jarang bicara. Tiba-tiba dipanggil bapak, itu berasa kayak bakal dijeblosin kepenjara. Nakutin.

Langkah tuh dilambat-lambatin atau pura-pura sibuk. Ngehadap ke bapak dan udah tahu pasti bakal dimarahin, nggak pernah jadi hal yang menyenangkan.

Duduk Berdua Bersama Bapak dan Bersiap Mendengar Petuah

Disini, ada dua kemungkinan. Kalau pejelasanmu masuk akal dan bisa diterima. Selamat, kamu bakal balik kamar tanpa perlu berderai air mata. Kalau penjelasanmu malah menambah amarah bapak yang semula ada di kepala jadi di ubun-ubun. Maka berdoalah, semoga tidak ada aksi pertarungan ala-ala film Hollywood.

Nah, gimana? Ada yang cocok? Semoga saja ada. Artikel ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi, bukan berdasarkan survey dari pakar yang mumpuni. Jadi kalau nggak cocok, saya nggak mau tanggung jawab.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments




Kamu mungkin pernah punya momen abu-abu. Momen yang saya juluki sebagai momen tidak jelas. Mirip seperti warna abu-abu. Tidak hitam tapi tidak juga putih.

Pernah disuatu waktu, setelah jalan-jalan bersama kawan. Tertawa bergembira, ngeshare di sosmed betapa bahagianya waktu yang kamu lewati. Setelah kamu kembali ke kamar dan berbaring. Kamu hanya diam menatap langit-langit kamar. Hp yang biasanya selalu kamu mainkan, kali ini sama sekali tidak kamu sentuh.

Tiba-tiba saja sebuah lagu sedih keluar dari mulutmu. Dengan nada sumbang tanpa band pengiring. Air matamu jatuh, yang dengan cepat kamu menghapusnya.

Mungkin kamu punya momen lainnya. Saat kamu selesai bekerja dan pulang. Kamu terduduk di sisi tempat tidur. Mungkin kamu diam-diam ingin mengundurkan diri dari tempat bekerja saat ini. Drama kantor yang mulai membuatmu jengah dan lelah. Betapa sisi terburuk seorang manusia tergambar jelas saat kamu ada di tempat kerja yang sama.

Niatmu yang terhambat karena mencari kerja susah dan beban tanggungan yang harus kamu bayar. Entah untuk orangtua, saudaramu, atau dirimu sendiri.

Atau kamu yang sekarang sedang mendengarkan musik dan memperhatikan kendaraan yang lewat. Setelah semua usaha demi usaha untuk membuktikan diri pada orangtua ternyata tidak membuahkan hasil. Pertengkaran dengan orangtua yang membuatmu harus angkat kaki dari rumah. Ternyata hal yang kamu pikir akan berhasil nyatanya hanya sebuah omong kosong ketika dihadapkan dengan realita.

Kamu, yang sudah berumur seperempat abad  namun masih belum kepikiran untuk menikah. Mendapati mantanmu kini sedang merencanakan pernikahan dengan pasangannya kini. Ternyata membuatmu sedikit iri. Mengapa dulu saat bersamaku dia tidak pernah kepikiran untuk menikah?

Terkadang hal bahagia yang sudah kamu lakukan bisa kapan saja berubah menjadi momen abu-abu. Yang membuatmu memilih lagu sedih dan mendengarkannya semalaman.

Momen abu-abu yang kadang takut kamu untuk ceritakan ke orang lain. Karena bila diceritakan mungkin akan membuatmu tampak bodoh.

Bagaimana harimu hari ini? Apakah  momen abu-abu datang menghampirimu hari ini?


Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Puncak Jatiwangi Felicia Latinka

Matahari sudah mulai tampak saat saya menyebrangi jalan menuju sebuah tanah lapang di puncak Jatiwangi. Bubur kacang hijau yang saya tenteng di kresek berwarna putih, pada akhirnya hanya mampu saya habiskan setengah gelasnya saja. 

Bersama teman seperjalanan, saya duduk di kursi kayu yang sebelumnya di duduki oleh dua sejoli yang datang bersama namun tidak banyak mengobrol. Masing-masingnya hanya sibuk memainkan layar ponsel.

Dari sebelah kanan lapangan, terlihat sekumpulan pemuda yang sedang menyeduh kopi. Air panas yang di didihkan di atas kayu bakar dengan asap yang menyatu dengan udara sekitar. Beberapa pemuda duduk bercanda dengan teman sebayanya sambil merokok.

Saya mengeratkan jaket saat udara terasa dingin. Mengeraskan volume lagu Ward Thomas yang sedang saya dengarkan.

Pandangan saya teralih ke kursi sebelah yang jaraknya kurang lebih  dua meter  dari kursi yang sedang saya duduki saat ini. Sekumpulan remaja, yang bila saya terka mungkin kumpulan anak SMA. 

Salah satunya berjaket merah dan berkacamata sedang berdiri memandangi matahari yang sudah mulai terbit, sambil memasukan kedua tangannya dalam saku jaket. Salah seorang teman si jaket merah, berjeans hitam, lihai memainkan senar gitar.

Puncak Jatiwangi

Sebenarnya nama Puncak Jatiwangi, adalah sebuah nama baru yang baru pernah saya dengar. Jika sebelumnya, tempat wisata yang terkenal menawarkan pemandangan kota dari atas bukit adalah Dana Taraha, salah satu kompleks kuburan Sultan Bima. Kini Puncak Jatiwangi juga menawarkan hal yang sama.

Wisata Puncak Jatiwangi
Jalanan di Puncak Jatiwangi

Jarak dari pusat kota menuju Puncak Jatiwangi bisa ditempuh dengan perjalanan kurang lebih 5 hingga 10 menit. Dengan akses jalan yang teramat baik. Hanya perlu hati-hati saja di jalanan menanjak dan beberapa tikungan.

Saat hari minggu, biasanya banyak warga atau anak muda yang menikmati puncak dengan berjalan kaki, lari, atau sekedar duduk bersama. Semakin pagi, jalanan akan semakin ramai. Terkadang kamu akan melihat kuda yang dituntun oleh seorang atau dua orang pemuda, ikut meramaikan suasana pagi Puncak Jatiwangi.

Pemandangan Dua Sisi

Jika dari sisi kanan jalan, kamu akan bertemu tanah lapang yang di antaranya terdapat kursi kapenta. Menjadi pilihan saya saat ini untuk menikmati matahari terbit.

Sebelum memasuki lapangan, kamu akan melihat stand Senja Kopi yang sepertinya hanya buka di sore hari. Seperti namanya, Senja Kopi.

Senja Kopi di Puncak Jatiwangi
Senja Kopi di sisi kanan jalan

Pemandangan yang ditawarkan dari sisi kanan adalah kamu bisa dengan jelas melihat garis besar daerah Jatiwangi dan sekitarnya. Lampu dari rumah penduduk yang masih menyala, jalan raya yang masih sepi pengendara, dan kabut tipis yang kamu lihat saat pagi hari.

puncak jatiwangi felicia latinka
Pemandangan dari sisi kanan Puncak Jatiwangi

Sementara dari sisi kiri, atau menyebranglah jalan dari Senja Kopi. Kamu akan melihat pemandangan Kota Bima dengan ciri khas Masjid Raya Berkubah Biru ditambah dengan pemandangan laut.

Jika dari sisi kanan, kamu hanya bisa melihat pemandangan bertemakan pegunungan dan rumah penduduk, maka dari sisi kiri kamu bisa melihat pemandangan kota dan laut yang mengelilinginya.

Puncak Jatiwangi felicia latinka
Pemandangan dari sisi kiri Puncak Jatiwangi

Sayangnya untuk sisi kiri, tidak ada kursi kapenta yang disediakan. Jadi hanya bisa berdiri di sisi jalan dan menikmati pemandangan kota.

Tapi kalau kamu malas berdiri, kamu bisa memiih untuk duduk di cafe puncak yang tersedia sambil mengobrol dengan teman seperjalananmu.

Oh ya, kalau kamu suka menikmati pemandangan kota di malam hari, puncak Jatiwangi juga menawarkan pemandangan yang tak kalah indahnya sehingga cocok kamu kunjungi bersama teman, sahabat, pasangan, atau dirimu sendiri.

Jika kamu tertarik dengan perjalanan tanpa arah dan wisata sejarah, kamu bisa mampir membaca artikel terbaru saya di sini.

Happy Weekend.

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

 


Hai. Saya Felicia Latinka. Bisa disapa dengan Feli. Lahir dan besar di kota kecil bernama Bima. Pernah merantau lalu akhirnya kembali pulang. Suka baca dan nonton drama korea. Kalau ada waktu luang suka jalan sendirian.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram

recent posts

Postingan Populer

  • Pantai Lariti : Laut Terbelah Versi Masa Kini
    Pantai Lariti : Laut Terbelah Versi Masa Kini
  • Maret : Bulan Refleksi Diri dan Susahnya Mencari Teman
    Maret : Bulan Refleksi Diri dan Susahnya Mencari Teman
  • Menikmati Air Terjun Oi Marai Di Kaki Gunung Tambora
    Menikmati Air Terjun Oi Marai Di Kaki Gunung Tambora
  • Pantai Sekoci Kolo dan Cara Sederhana Menikmatinya
    Pantai Sekoci Kolo dan Cara Sederhana Menikmatinya
  • Tentang Si Teman Cerita
    Tentang Si Teman Cerita
  • First Date Di Akhir September Yang Berakhir Gagal Dan Beberapa Alasannya
    First Date Di Akhir September Yang Berakhir Gagal Dan Beberapa Alasannya
  • Me Time Sederhana di Jalanan Sambinae
    Me Time Sederhana di Jalanan Sambinae
  • Menikmati Dua Sisi Bima dari Puncak Jatiwangi
    Menikmati Dua Sisi Bima dari Puncak Jatiwangi
  • Awal Mula Perjalanan
    Awal Mula Perjalanan
  • Saat Sendiri di Malam Minggu
    Saat Sendiri di Malam Minggu

Part of

Blogger Perempuan

Categories

  • About
  • BPN 30 Day Ramadan Blog Challenge 2022
  • Home
  • Random
  • Travelling

Blog Archive

  • April 2022 (1)
  • Oktober 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (2)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (1)
  • Februari 2021 (1)
  • Januari 2021 (1)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (4)
  • Oktober 2020 (1)
  • September 2020 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Created with by ThemeXpose